Sosok Candra: Diduga Pemodal Utama PETI Parigi Moutong yang "Kebal Hukum"

CAPTION :Nama "CANDRA" santer disebut sebagai sosok sentral di balik menjamurnya aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Parimo/F-IST.


SAMBAR.ID, Parimo, Sulteng - Nama Candra santer disebut sebagai sosok sentral di balik menjamurnya aktivitas Pertambangan Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Parigi Moutong. Berdasarkan informasi yang dihimpun tim media, ia dikenal sebagai salah satu pemodal utama dengan jaringan kuat, hingga namanya begitu tersohor di kalangan pelaku tambang ilegal setempat.


Bukan sekadar karena skala bisnisnya yang masif, Candra juga kerap dijuluki sebagai "raksasa" yang seolah kebal hukum. Dugaan ini menguat lantaran hingga kini ia belum pernah sekalipun tersentuh Aparat Penegak Hukum (APH).


Padahal, jejak kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang yang dibiayainya telah tersebar di berbagai titik kawasan pegunungan Parigi Moutong.


Isu yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa posisi aman Candra didapatkan bukan tanpa alasan. Ia diduga memiliki "tameng" atau perlindungan kuat dari oknum di lingkungan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).


Jaringan inilah yang dinilai membuatnya bebas bergerak mengeruk kekayaan alam tanpa izin, meski dampaknya sangat meresahkan warga.


Luput dari Penggerebekan di Desa Alo'o


Berdasarkan data dan keterangan lapangan, Candra merupakan tokoh kunci di balik operasi tambang ilegal di Desa Alo’o, Kecamatan Ampibabo. Lokasi tersebut sebenarnya baru saja disisir dan ditindak oleh Satuan Tugas Penegakan Hukum (Satgas Gakum) beberapa hari lalu.


Meski petugas berhasil menemukan sejumlah alat berat dan bukti aktivitas penambangan di lokasi, sosok Candra sebagai penggerak utama lagi-lagi luput dari penangkapan.


Tantangan Bagi Kapolda Baru "Brigjen Pol Nasri Saleh"


Bebasnya pergerakan Candra di tengah hancurnya kawasan hutan dan pegunungan Parigi Moutong kini menjadi sorotan tajam publik. 


Kondisi ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi aparat penegak hukum, khususnya Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tengah yang kini dipimpin oleh Brigjen Pol. Nasri Sulaiman.


Masyarakat setempat menaruh harapan besar di bawah kepemimpinan baru ini. Penegakan hukum diharapkan dapat berjalan tegas, transparan, dan tanpa pandang bulu. 


Warga mendesak agar sosok yang selama ini dianggap kebal hukum tersebut segera diburu, ditangkap, dan diadili guna mempertanggung jawabkan kerusakan lingkungan serta kerugian negara yang ditimbulkannya.**/Tim

Lebih baru Lebih lama