Muhamad Sarif Hidayat soroti tiga hal gagalnya sistem organisasi Karang Kecamatan Pusakanagara (poto: Asep Ocay).
Sambar.id,Subang, Jabar - Keberadaan Karang Taruna Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang dinilai hanya tinggal nama saja. Organisasi kepemudaan yang seharusnya menjadi wadah kreativitas dan pergerakan sosial ternyata tidak lagi menunjukan aktivitas nyata di tengah masyarakat.
Kritikan tersebut disampaikan oleh Muhamad Sarif Hidayat anggota karang taruna desa Pusakaratu. Menurut dirinya keberadaan Karang Taruna Kecamatan Pusakanagara sudah mati suri, mesti secara administratif masih memiliki legalitas keanggotaan tapi kondisi sekarang ini terdampak langsung pada stagnasi peran pemuda di tingkat kecamatan, Seni (15/6/2026).
"Secara de jure mungkin masih ada SK kepengurusan, akan tetapi secara de facto pengurus Karang Taruna tidak menjalankan pungsi sosialnya. Kehadirannya tidak pernah dirasakan," ucapnya.
Dirinya menyoroti tiga persoalan mendasar yang dinilai menjadi kegagalan sistem organisasi tersebut. Yang pertama absennya kehadiran sosial Karang Taruna dalam merespon persoalan kemasyarakatan dan kebutuhan ekpresi pemuda. Hingga kini kata Tawik sapaan akrab Muhammad Sarif Hidayat tidak ada program kerja yang menyentuh langsung masyarakat maupun upaya pemberdayaan pemuda, yang kedua, organisasi dinilai bersifat elitis dan tertutup," tutur Tawik.
Tawik menyebut Karang Taruna Kecamatan Pusakanagara terkesan hanya dikelola oleh segelintir pengurus inti saja, sementara pengurus di tingkat desa berjalan tanpa kordinasi dan pembinaan yang jelas," tegasnya.
"Aspirasi Pemuda di tingkat bawah sepertinya diabaikan, narasi Kesetiakawanan sosial hanya jadi selogan tanpa inflementasi," ucapnya.
Persoalan ketiga menurut Tawik mandulnya regenerasi kepemimpinan. Pasifnya Karang Taruna Kecamatan Pusakanagara menyebabkan tidak lahirnya kader-kader muda yang kritis dan solutif, karena ruang pengkaderan dan pembinaan nyaris tidak berjalan," pungkasnya. (*)








.jpg)



