OPINI: Menjaga Sanad dan Menghidupkan Thoriqoh Jelang Haul Syekh Mustaqim PETA

SAMBAR.ID |

Redaksi, 09 Juni 2026

Bekasi - Penyelenggaraan Haul Pondok PETA (Pesulukan Tulung Agung) tinggal menghitung hari. Tepat 14 hari menuju peringatan wafatnya sang ulama besar, suasana khidmat mulai menyelimuti para pencinta spiritual di seluruh penjuru Nusantara. Pada momentum bersejarah ini, panitia mengusung tema mulia yang sarat akan makna mendalam: "Menjaga Sanad, Menghidupkan Thoriqoh, Menyiarkan Cahaya Ilahi".


Bagi kaum sufi, tema tersebut bukan sekadar jargon pelengkap acara tahunan. Ia adalah prinsip mutlak yang menjaga keaslian bimbingan jiwa dari seorang guru spiritual, menjalar ke atas hingga bersambung langsung kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Jika kita menilik kembali sejarah emas Pondok PETA di Tulungagung, Jawa Timur, eksistensinya sebagai pusat penyebaran Tarekat Syadziliyah tidak pernah lepas dari keteguhan tokoh sentralnya: Hadrotussech KH. Mustaqim Bin Husein.


Akar Fondasi dan Jaringan Ulama di Tulungagung


Menelusuri sanad ilmiah Syekh Mustaqim adalah melihat bagaimana takdir menuntun seorang hamba menuju puncak makrifat. Beliau mengawali tradisi intelektualnya sejak usia yang sangat belia. Ketika menginjak usia sekitar 12 tahun, Syekh Mustaqim belajar agama dengan tekun di rumah Kiai Zarkasyi di Kauman, Tulungagung. Di bawah bimbingan langsung sang guru, beliau mempelajari metode membaca Al-Qur'an secara fasih sekaligus mendalami fondasi ilmu-ilmu Islam.


Lingkungan awal ini terbukti sangat krusial. Kiai Zarkasyi merupakan ulama terkemuka di Tulungagung sekaligus saudara sepupu dari pendiri Nahdlatul Ulama, KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Dari sinilah benih-benih keteguhan syariat dan keluhuran akhlak tertanam kuat di dalam dada Syekh Mustaqim sebelum beliau mengarungi samudra tarekat yang lebih luas.


Pengembaraan Spiritual ke Tanah Sunda


Didorong oleh rasa haus akan kedalaman rohani, Syekh Mustaqim kemudian memulai pengembaraan jauh ke Jawa Barat sekitar tahun 1916. Atas saran dan restu pamannya, Kiai Sholeh, beliau memutuskan untuk berguru kepada Kiai Khudlori di Malangbong, Garut. Hubungan antara murid dan guru di Malangbong ini sejatinya merupakan jalinan kekeluargaan yang erat, sebab Kiai Khudlori merupakan keturunan langsung dari kakek buyut Syekh Mustaqim sendiri.


Di tatar Sunda inilah spiritualitas beliau ditempa dengan sangat masif. Syekh Mustaqim secara resmi menerima ijazah Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah (TQN) serta Tarekat Naqsabandiyah. Tidak hanya itu, beliau juga memperoleh benteng gaib berupa rupa-rupa amalan, mulai dari Hizib Autad (Khafi), Hizib Yamarobil, hingga ilmu kanuragan dan silat Sunda. Pengembaraan lintas kultural ini memperkaya dimensi kepemimpinan spiritual beliau di masa depan.


Momentum Bersejarah 1936: Pertemuan Dua Samudra


Puncak kristalisasi sanad spiritual terjadi sekitar tahun 1936 melalui peristiwa pertukaran ijazah (ijazah mubadalah) yang legendaris. Syekh Mustaqim bertemu dengan Raden KH. Abdul Rozaq dari Pondok Tremas, Pacitan. Pertemuan ini melahirkan kesepakatan spiritual yang agung. Syekh Mustaqim memberikan ijazah Hizib Autad kepada KH. Abdul Rozaq. Sebaliknya, KH. Abdul Rozaq memberikan ijazah Tarekat Syadziliyah beserta kitab-kitab ajarannya kepada Syekh Mustaqim.  


KH. Abdul Rozaq menitipkan amanat besar kepada Syekh Mustaqim untuk mengembangkan dan menyebarluaskan Tarekat Syadziliyah. Pasca-peristiwa sakral tersebut, Pondok PETA Tulungagung secara resmi bertransformasi menjadi episentrum utama perkembangan Tarekat Syadziliyah di Indonesia.


Filsafat Kemudahan dan Kasih Sayang Kepada Murid


Sisi menarik dari kepemimpinan sufi Syekh Mustaqim adalah fleksibilitas dakwah dan sifat welas asih beliau kepada umat. Hal ini dibuktikan melalui modifikasi metode riyadlah ekstrem yang dikenal sebagai "Poso Ngere". Pada aturan asalnya, laku spiritual ini mewajibkan pelaku meminta-minta makanan dari rumah ke rumah selama 40 hari tanpa membawa bekal ataupun pakaian cadangan.  


Syekh Mustaqim secara visioner menimbang bahwa murid-murid di masa mendatang belum tentu memiliki ketahanan fisik dan mental yang sama untuk memikul beban seberat itu. Tanpa mengurangi esensi pembersihan jiwa, beliau dan KH. Abdul Rozaq sepakat memodifikasi riyadlah fisik tersebut menjadi amalan berbasis zikir: membaca Syahadat 100 kali dan membaca Takbir 100 kali.


Langkah ini menunjukkan bahwa thoriqoh hadir bukan untuk menyulitkan atau mengasingkan manusia dari realitas sosial, melainkan untuk menuntun jiwa kembali kepada Tuhannya dengan penuh kemudahan dan kasih sayang.


Warisan yang Terus Menyala


Kini, khazanah spiritual yang ditinggalkan oleh Syekh Mustaqim—termasuk rangkaian hizib penunjang seperti Hizib Bahr, Hizib Barr, Hizib Nashr, hingga Shalawat Nuuruz Zati—tetap terjaga rapi dan lestari di Pondok PETA. 


Menjelang 14 hari menuju haul akbar, tema "Menjaga Sanad, Menghidupkan Thoriqoh, Menyiarkan Cahaya Ilahi" adalah sebuah pengingat penting bagi kita semua. Di tengah modernitas dunia yang kian bising dan mengikis ketenangan jiwa, warisan spiritual dari Hadrotussech KH. Mustaqim Bin Husein senantiasa berdiri kokoh sebagai kompas pengingat, membawa kembali ketenteraman batin yang sejati bagi siapa saja yang rindu akan pelukan cahaya Ilahi.


Narasumber: Panitia Haul Guru Besar Hadrotussech KH. Mustaqim Bin Husein

Lebih baru Lebih lama