SAMBAR.ID, ROHIL – Nyawa dan keselamatan para pencetak generasi penghafal Al-Qur'an di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) tampaknya berada di ujung tanduk. Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Muqoomah kini menjadi sorotan tajam. Bagaimana tidak? Di balik prestasinya yang gemilang, ponpes ini dibiarkan merana tanpa sistem keamanan dasar, bak berjuang sendiri di tengah hutan belakangan tanpa lirikan pemerintah.
Pantauan langsung Tim Biro Redaksi Rohil pada Kamis (22/7/2026) memperlihatkan kondisi lokasi yang sangat memprihatinkan. Ponpes yang berdiri di wilayah "Negeri Seribu Kubah" ini dikelilingi semak belukar dan berada di area yang terisolasi serta sunyi sepi.
Yang paling menakutkan, tidak ada sama sekali pagar pengaman di sekeliling area pesantren. Risiko gangguan keamanan, ancaman binatang buas, hingga potensi bahaya fisik dari lingkungan luar mengintai para santri, ustadz, dan ustadzah setiap detiknya.
"Kondisi keselamatan santri masih menjadi kekhawatiran besar para orang tua. Tidak ada batas pagar keamanan dari gangguan apa pun. Mana perhatian pemerintah dan Kementerian Agama?" tegas salah satu warga dan wali santri yang merasa resah.
Tiga Era Bupati Berlalu, Bantuan Nol Besar!
Pimpinan Ponpes Tahfidz Daarul Muqoomah, Syafrizal, M.Si, tak mampu lagi menyembunyikan kekecewaannya. Saat dikonfirmasi, ia mengungkap fakta pahit: pesantren ini berdiri murni dari belas kasih dan uluran tangan hamba Allah, tanpa bantuan pemerintah sedikit pun.
Anehnya, sikap acuh tak acuh Pemkab Rohil ini sudah berlangsung bertahun-tahun melintasi tiga kepemimpinan bupati yang berbeda.
• Undangan Selalu Diabaikan: Pihak ponpes mengaku selalu mengundang jajaran pimpinan daerah dalam setiap agenda kegiatan.
• Abaikan Tiga Era Bupati: Mulai dari era Bupati Suyatno, Afrizal Sintong, hingga pimpinan saat ini, Bistamam, jeritan dan permohonan bantuan ponpes ini selalu bertepuk sebelah tangan.
• Respon Nihil: Aspirasi mengenai kondisi fisik dan keselamatan pesantren yang disampaikan langsung secara lisan pun tak pernah digubris.
Miris: Berprestasi Internasional, tapi Dibiarkan "Terlantarkan"
Ironi besar sangat terasa ketika melihat potensi para santri di Ponpes Daarul Muqoomah. Pada acara orientasi santri baru, para santri tingkat SMP sudah menunjukkan taringnya dengan mampu membawakan tausiah dan pidato menggunakan tiga bahasa (Inggris, Arab, dan Indonesia) serta fasih melafalkan berbagai doa dan hafalan.
Mereka adalah aset nyata pembawa nama harum umat Islam dan calon penerus bangsa. Namun sayangnya, dedikasi para santri serta perjuangan para ustadz-ustadzah yang mengajar di sana seolah dianggap "angin lalu" oleh para pemangku kebijakan di Rohil.
Desak Kemenag dan Pemkab Rohil Turun Tangan!
Kondisi yang dibiarkan berlarut-larut ini memicu desakan keras agar Kementerian Agama (Kemenag) dan Pemkab Rohil segera bangun dari tidur nyenyaknya. Publik menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas.
Keselamatan anak-anak bangsa yang sedang menimba ilmu agama tidak boleh dipertaruhkan hanya karena kelalaian dan ketidakpedulian birokrasi. Jangan sampai tunggu ada korban jiwa baru pemerintah kasak-kusuk berpura-pura peduli!
Laporan: Tim Jurnalis (Legiman)
Sumber: Konfirmasi










