*DISKUSI TERUNIK* (Modus Penyimpangan APBD)

 


OLEH : Guru Besar UNTAD Prof Dr. Ir. Muhd Nur Sangadji, DEA


*Bagian Pertama* 


SAMBAR.ID, Opini - Baru saja sy memandu satu diskusi unik. Unik dari judulnya. Unik dari Narasumbernya. Unik dari pesertanya. Dan, unik dari tempat pelaksanaannya. Diskusi yang dari judul sudah mengundang kerisauan ini digagas oleh AR Bataraguru. Ini anak muda yang saya kenal dekat. Di zaman mahasiswa, dia dan kawan kawannya adalah adik-adik ku di kampus Tadulako.


Andi Ridwan Bataguru ini sedang memimpin satu lembaga non formal di bidang hukum bernama (LBH-KI dan Lembaga Informasi Keuangan Daerah ) LIPKADA Center. 


Di awal pembukaan saya bilang begini. Kalau sejarah tidak dilupakan. Permulaan reformasi negeri ini, punya resonansi yang sangat kuat di kota Palu. Kala itu, AR Bataraguru, Ahmad Anton dan Sudirman adalah aktornya. Mereka menghadirkan Sri Bintang Pamungkas. Dan, peristiwanya bergulir kencang sekali hingga tumbang Orde Baru.


Sri Bintang Pamungkas sedang ada di Jerman. Dari sana Beliau pulang ke Jakarta langsung ke kota Palu. Secara sangat kebetulan, satu hari setelahnya saya juga tiba Palu dari penerbangan Panjang. Lyon, Emimat, Jakarta dan Palu. Saya pulang untuk libur musim Panas atau dingin (lupa). Karena pulang itulah, saya hadiri diskusi bersama Sri Bintang di Sanggar Ali Bunga' Saw kampus UNTAD Bumi nyiur Palu. Satu diskusi yang menjadi awal malapetaka akademik bagi AR Bataraguru cs. 


*******

Waktu Sri Bintang sedang di Jerman, kami pelajar Indonesia di Perancis sedang berkumpul di kantor KBRI Paris. Kakaknya Sri Bintang yang adalah menantu Bung Hatta, Sri Edy Swasono, bercerita kepada kami di KBRI itu. Dari 500 an anggota DPR-MPR, kata Edy Swasono, hanya satu orang yang berani bilang " *tidak* " kepada Soeharto. Dialah adik ku "Sri Bintang Pamungkas". Orang yang belakangan menjadi sahabat seperjuangan dari tiga mahasiswa pendekar reformasi asal kota Palu tersebut.


--------

Diskusi modus Penyimpangan APBD ini mengambil tempat di satu Cafe bernama Rajawali di jalan Rajawali kota Palu. Saya ingat diskusi Cafe ini dimulakan puluhan tahun silam. Pelakunya Rahmat Kawaru dan dr. Heri. Sy bertindak sebagai katalisatornya. Dan, kini diskusi Cafe menjadi trend. Bagus, untuk agar hal serius bisa dibicarakan secara informal dan santai. 


Saya bilang pada lebih kurang dua puluh tahun lalu itu. Diskusi adalah hiburan bagi mereka yang terus berfikir. Dan, berfikir pun bisa dalam keadaan santai. Itulah sebabnya, mengapa Ruang Cafe menjadi pilihan.


Ternyata faktanya, diskusi diruang publik ini tidak selalu berjalan santai. Kata Das'at Latif, GAAS FUUL. Terbukti, begitu babak pertanyaan di buka. Penanya langsung menyerang Gubernur dengan gaya agitatifnya. Gubernur sampai bilang ; "ini penanya sampai seperti mau menelan saya". Saya berbisik kepada AR Bataraguru, ini ekpresi dari kerinduan publik pada dialog terbuka dengan pemimpinnya. Tapi, Gubernur dengan kepiawaian retoriknya, mampu mengatasi. Bahkan membalikkan kemarahan menjadi senyum dan tertawa.


Saya merenung sesaat. Apakah reaksi publik ini *Kasar...?* Mungkin iya. Tapi begitulah ekspresi rakyat. Saya ingat cerita tentang Umar Bin Khattab. Dalam pidatonya dia berkata ; "kalau yang saya katakan benar, ikutlah aku. Tapi keliru, luruskan aku". Waktu itu, berteriaklah satu orang Arab Baduy. "Wahai Amirul mukminin, kalau engkau keliru, pedang inilah yang akan meluruskan mu". 


*******


Satu waktu di sekitar tahun 2003. Saya menemani walikota Suardin Suebo berdiskusi di markas Yayasan Pendidikan Rakyat (YPR). Waktu diskusi dimulai, ada satu perempuan berteriak lantang. "Pemerintah ini semuanya adalah perampok. Bagusnya kita kembali ke masa Raja-Raja kita dahulu kala". Pak Suardin berbisik kepada saya. "Nandasa (susah) kita lee kalau begini". 


Saya bilang kepada Walikota Suardin Suebo kala itu. Bapak Nandasa karena baru kali ini berdiskusi dgn mereka. Kalau Bapak datang lagi. Suara itu sudah akan melemah. Kalau Bapak datang terus. Suara itu akan hilang. Sebaliknya mereka akan memeluk dan merindukan Bapak saat pergi. 


Mengapa ..? Karena intens komunikasi ini telah melahirkan kepercayaan. Kesulitan mereka akan dirasakan oleh Bapak. Dan, kesulitan Bapak selaku pemerintah, telah dirasakan oleh mereka sebagai rakyat. Disinilah esensi pembangunan itu ditemukan (development should respon community need). Sekalipun permasalahan yang dihadapi belum selesai. Karena , rasa telah bertaut (believe) melalui komunikasi.


Kebelakang lagi sedikit, di era Walikota Baso Lamakarate. Saya dipercayakan selaku "UMA, Urban Advisory Manajemen" dari program UNDP-PBB untuk sepuluh kota di Indonesia. Saya bikin pertemuan publik di Areal MTQ tahun 2002. Menghadirkan ratusan manusia dari empat kecamatan di kota Palu. Pak Wali Baso Lamakarate sangat kuatir dengan pertemuan ini. Saya yakinkan beliau. Alhamdulillah pertemuan berlangsung aman dan tertib. Senangnya Beliau, sampai meminta dilakukan lagi setiap tiga bulan. Sayang, tidak berlanjut sebab setelah itu, beliau berpulang ke Rahmatullah. Maka, jabatan walikota diteruskan oleh Suardin Suebo.


Kemarin pun, Gubernur Anwar Hafid mangemukajan hal yang sama. Akan ada pertemuan lanjutan. Sejenis atau yang lebih terbatas dengan tematik yang terfokus. Semoga..


 **Bersambung ke Bagian Kedua (tentang Modus Penyimpangan APBD)**........

Lebih baru Lebih lama