Sambar.id, Rokan Hilir - Pada Hari Kamis Tanggal 23 Juli 2026 Biro Redaksi Rohil Kembali Berikan Informasi Publik ROKAN HILIR-
Opini — Ruang Sidang Paripurna DPRD hari itu mendadak penuh dengan aura formalitas tingkat tinggi. Pakaian rapi, senyum merekah, dan tumpukan berkas tebal berpindah tangan. Agendanya sakral: Penyampaian Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. Sebuah momen penuh angka di mana pemerintah melaporkan ke mana saja larinya uang rakyat selama setahun ke belakang.
Melihat formalitas itu, masyarakat awam tentu terkesima. Namun, jika kita menengok keluar dari jendela gedung dewan yang megah, realita di lapangan justru tampak seperti sebuah pertunjukan komedi satir yang bikin elus dada.
Mari kita bedah prioritas anggaran kita yang super "ajaib" ini lewat tiga menu utama:
1.Rumah Dinas Ketua DPRD: Glowing Maksimal!
Menu pertama yang paling menguras perhatian (dan dompet daerah) adalah proyek renovasi rumah dinas Ketua DPRD. Anggarannya? Jelas tidak kecil. Konon, kenyamanan wakil rakyat adalah segalanya.
Mungkin filosofinya begini: bagaimana bisa memikirkan kesejahteraan rakyat kalau atap rumah dinas masih ada yang bocor? Jadi, demi konsentrasi kerja yang hakiki, rumah dinas harus diubah menjadi sekelas resort bintang lima. Estetika nomor satu, urusan lain bisa antre.
2. Gaji Honorer: Puasa yang Diperpanjang
Berbanding terbalik dengan kemegahan rumah dinas, nasib para pegawai honorer justru berstatus "tunda bayar". Di saat harga minyak goreng naik dan tagihan listrik menagih tanpa ampun, para honorer dipaksa menjadi pahlawan tanpa tanda jasa—sekaligus tanpa gaji tepat waktu.
Mungkin pemda sedang menguji tingkat kesabaran dan keimanan para honorer. Anggap saja ini latihan spiritual tingkat tinggi. Rumah dinas boleh direnovasi agar makin mewah, sementara dapur rumah honorer silakan direnovasi menjadi ruang meditasi penahan lapar.
3. Jalan Rusak: Wahana Offroad Gratis untuk Rakyat
Jika Anda bosan dengan hiburan yang itu-itu saja, Pemkab punya solusi kreatif: membiarkan jalanan rusak dan berlubang membentuk kubangan beraliran estetika alami. Tidak perlu jauh-jauh ke tempat wisata ekstrem, cukup lewat jalan poros, Anda sudah bisa menikmati sensasi offroad yang mengocok perut (dan merusak shockbreaker motor).
Pembiaran jalan rusak ini tampaknya sengaja dilakukan demi mendukung kearifan lokal. Lubang-lubang jalanan yang digenangi air hujan bisa dialihfungsikan sebagai kolam lele darurat atau tempat pemandian kerbau. Sungguh sebuah inovasi tata kota yang sangat visioner!
Pertanggungjawaban untuk Siapa?
Kembali ke ruang paripurna yang sejuk ber-AC. Saat berkas pertanggungjawaban APBD itu diketok palu, kita semua tahu bahwa lembaran kertas itu penuh dengan angka-angka keberhasilan di atas meja.
Namun bagi rakyat yang hari ini motornya masuk lubang jalan, atau bagi honorer yang hari ini bingung mau beli beras pakai apa, mereka punya lembar pertanggungjawaban sendiri. Sebuah lembar penilaian yang kesimpulannya cuma satu: Anggarannya dinikmati pejabat, dampaknya diderita rakyat.
Selamat atas paripurnanya! Semoga AC di rumah dinas yang baru tetap dingin, sedingin respons pemerintah terhadap jeritan perut para honorer.
Laporan: Tim Jurnalis ((Legiman))
Sumber: Masyarakat









