SAMBAR.ID, LUWU TIMUR – Sikap Ketua Himpunan Mahasiswa Luwu Timur (HAM-LUTIM) Batara Guru, Rishariyadi, S.AP, menjadi sorotan setelah lebih memilih mengklarifikasi dugaan pencatutan namanya di sejumlah media massa dibanding memberikan pernyataan terbuka terkait konflik agraria dan dugaan tindakan represif terhadap warga Dusun Laoli, Desa Harapan, Kecamatan Malili.
Sorotan tersebut datang dari kalangan aktivis hingga internal organisasi mahasiswa yang menilai langkah klarifikasi itu lebih berorientasi pada pemulihan citra pribadi daripada menunjukkan keberpihakan terhadap persoalan kemanusiaan yang tengah dihadapi masyarakat.
Menurut sejumlah pihak, organisasi mahasiswa daerah semestinya hadir sebagai ruang perjuangan dan penyambung aspirasi rakyat ketika muncul dugaan intimidasi maupun kekerasan terhadap warga. Dalam situasi konflik sosial, sikap diam dinilai berpotensi menimbulkan persepsi bahwa organisasi tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.
Mereka juga menegaskan bahwa pembangunan maupun investasi, apa pun bentuknya, tidak boleh mengesampingkan hak-hak dasar warga negara. Dugaan penggunaan tindakan represif dalam penyelesaian konflik dinilai harus menjadi perhatian utama seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi mahasiswa.
Seorang kader HAM-LUTIM yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa terhadap sikap pimpinan organisasinya.
"Sangat disayangkan. Ketua Rishariyadi sibuk menyelamatkan nama baiknya di media, padahal masyarakat di lapangan membutuhkan pembelaan nyata. Dalam situasi konflik, diamnya organisasi mahasiswa bisa dipersepsikan sebagai keberpihakan kepada pihak yang lebih kuat," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa setiap proyek pembangunan di Kabupaten Luwu Timur harus tetap menghormati prinsip-prinsip kemanusiaan dan perlindungan hak warga.
"Apa pun bentuk proyeknya, tidak boleh ada kekerasan. Nilai kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala kepentingan. Jika pimpinan organisasi tidak berani menyuarakan kepentingan masyarakat, publik tentu berhak mempertanyakan posisi dan keberpihakan HAM-LUTIM hari ini," katanya.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat pernyataan resmi dari Ketua HAM-LUTIM Batara Guru, Rishariyadi, yang secara khusus menanggapi sorotan tersebut maupun memberikan sikap organisasi terkait dugaan tindakan represif terhadap warga Dusun Laoli.
Catatan Redaksi: Berita ini memuat pernyataan dan pandangan narasumber. Demi keberimbangan, redaksi membuka ruang hak jawab kepada Ketua HAM-LUTIM Batara Guru, Rishariyadi, maupun pengurus HAM-LUTIM apabila ingin memberikan penjelasan atau tanggapan atas substansi pemberitaan ini. (Tadda)










