BULUKUMBA Sambar id — Semangat kemerdekaan tidak selalu harus dimaknai melalui kisah perjuangan di medan perang. Di tengah kehidupan bangsa yang terus berkembang, nasionalisme dapat diwujudkan melalui pengabdian, kerja nyata, menjaga persatuan, serta kesetiaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pesan itu disampaikan Andi Syarifuddin dalam momentum menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia mengungkapkan sebuah refleksi sederhana namun sarat makna:
“Saya memang bukan pejuang kemerdekaan. Namun, jiwa dan ragaku adalah bagian dari Indonesia. NKRI adalah harga mati.”
Pernyataan tersebut menjadi pesan bahwa perjuangan generasi saat ini memiliki bentuk yang berbeda dengan perjuangan para pendahulu. Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan pengorbanan jiwa dan raga, maka hari ini kemerdekaan diisi dengan memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat dan bangsa.
Semangat tersebut sejalan dengan tema resmi HUT ke-81 Kemerdekaan RI 2026, yakni “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Pemerintah menegaskan bahwa tema tersebut bukan sekadar semboyan, melainkan menggambarkan semangat dan kerja nyata untuk mewujudkan cita-cita kebangsaan.
Nasionalisme Dimulai dari Pengabdian
Sebagai bagian dari keluarga besar Dinas Perdagangan dan Industri Kabupaten Bulukumba, Andi Syarifuddin memaknai kemerdekaan sebagai kesempatan untuk terus memberikan pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, menjadi warga negara yang mencintai Indonesia tidak harus selalu tampil sebagai sosok besar. Setiap orang dapat mengambil bagian melalui pekerjaan, pelayanan publik, menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, serta ikut membangun lingkungan di sekitarnya.
“Cinta Indonesia bukan hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan. Kita bekerja, melayani masyarakat, menjaga persatuan dan ikut membangun daerah sebagai bagian dari pembangunan Indonesia,” menjadi semangat yang tercermin dari pesan tersebut.
Mengisi Kemerdekaan dengan Kerja Nyata
Momentum HUT ke-81 RI tahun ini juga mengajak masyarakat untuk melihat kemerdekaan sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah menyebut rangkaian Bulan Kemerdekaan 2026 dirancang secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta masyarakat luas.
Karena itu, makna “NKRI harga mati” tidak berhenti pada slogan. Ia dapat diwujudkan melalui sikap menjaga persatuan, menghargai keberagaman, menaati aturan, bekerja secara profesional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Andi Syarifuddin, pengabdian sebagai aparatur sipil negara juga merupakan bagian dari cara generasi sekarang mengisi kemerdekaan.
“Saya bukan pejuang yang merebut kemerdekaan. Tetapi saya ingin menjadi bagian dari generasi yang menjaga dan mengisi kemerdekaan dengan kerja nyata. Jiwa dan ragaku untuk Indonesia. NKRI harga mati,” pesannya.
Semangat tersebut menjadi pengingat bahwa kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah yang diperingati setiap 17 Agustus. Kemerdekaan adalah amanah yang harus terus dijaga dan diisi oleh setiap generasi.
Dari Bulukumba untuk Indonesia: bekerja, mengabdi, menjaga persatuan, dan terus bergerak untuk Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur.
Redaksi Sambar.id









