Sambar id OPINI: Ketika Seorang Ibu Memilih Diam, Bertahan, dan Tetap Mengabdi

Ada saat dalam hidup ketika seseorang tidak lagi membutuhkan banyak kata untuk menjelaskan dirinya.

Cukup waktu yang menjawab.
Cukup ketulusan yang berbicara.
Dan cukup jejak pengabdian yang kelak menjadi saksi.

Hidup memang tidak selalu menghadirkan jalan yang mudah. Ada hari ketika langkah terasa ringan karena banyak orang datang memberikan dukungan. Namun ada pula hari ketika langit tiba-tiba gelap, satu per satu tuduhan datang, fitnah berembus, dan orang-orang yang dahulu tersenyum justru memilih menjauh.

Di situlah manusia diuji.

Bukan ketika dipuji, tetapi ketika dihujat.

Bukan ketika disambut, tetapi ketika ditinggalkan.

Bukan ketika berada di atas, tetapi ketika harus berdiri sendirian menghadapi badai.

Dan di tengah keadaan seperti itu, saya melihat sosok Ibu Husniah Talenrang memilih untuk tetap berdiri.

Beliau tidak membalas luka dengan luka.

Tidak menjadikan hujatan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.

Tidak menjadikan tuduhan sebagai alasan untuk meninggalkan pengabdian.

Beliau memilih diam ketika mungkin ada banyak hal yang sebenarnya ingin disampaikan.

Memilih sabar ketika hati mungkin sedang tidak baik-baik saja.

Memilih tetap tersenyum ketika mungkin ada luka yang tidak pernah terlihat oleh siapa pun.

Bagi saya, itulah keteguhan seorang perempuan yang memahami bahwa pengabdian jauh lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.

Kadang kita tidak pernah tahu berapa banyak air mata yang jatuh di balik senyum seseorang.

Kita tidak tahu berapa banyak kekecewaan yang disimpan sendiri agar orang lain tetap melihatnya kuat.

Kita tidak tahu berapa banyak kata yang sebenarnya bisa dibalas, tetapi sengaja ditahan karena tidak ingin memperpanjang persoalan.

Dan mungkin, itulah arti menjadi kuat.

Bukan tidak memiliki rasa sakit, tetapi mampu menahan rasa sakit tanpa menjadikannya alasan untuk menyakiti orang lain.

Saya percaya, setiap badai pasti berlalu.

Tidak ada malam yang selamanya gelap. Tidak ada hujan yang terus turun tanpa henti. Dan tidak ada kabut yang mampu menutupi matahari selamanya.

Suatu saat, semuanya akan kembali terang.

Yang hari ini dituduhkan, akan menemukan jawabannya.

Yang hari ini disalahpahami, akan menemukan penjelasannya.

Dan yang hari ini mungkin dianggap kecil, suatu hari bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi banyak orang.

Karena waktu memiliki cara sendiri untuk memperlihatkan siapa yang benar-benar tulus dan siapa yang hanya hadir ketika keadaan menguntungkan.

Ada orang yang datang ketika matahari sedang bersinar.

Mereka memuji, mendekat, bahkan seolah-olah menjadi bagian dari perjalanan.

Namun ketika hujan turun, mereka pergi.

Tetapi ada pula seseorang yang tetap berdiri meskipun payungnya sendiri hampir patah diterpa angin.

Tetap bertahan.

Tetap melayani.

Tetap memikirkan orang lain.

Bagi saya, sosok seperti itulah yang layak dihargai.

Ibu Husniah Talenrang, tetaplah menjadi diri sendiri.

Tidak perlu berubah hanya karena ada yang menghujat.

Tidak perlu membalas hanya karena ada yang menyakiti.

Tidak perlu menjelaskan segala sesuatu kepada mereka yang memang tidak ingin memahami.

Biarkan waktu bekerja.

Biarkan masyarakat melihat.

Biarkan perbuatan menjadi jawaban.

Sebab seorang pemimpin tidak akan dikenang karena seberapa banyak ia membalas orang yang menyerangnya. Ia akan dikenang karena seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan ketika memiliki kesempatan untuk berbuat.

Hidup ini terlalu singkat untuk menyimpan dendam.

Terlalu berharga untuk dihabiskan dalam pertengkaran.

Dan terlalu indah jika hanya digunakan untuk membuktikan diri kepada orang-orang yang tidak pernah mau percaya.

Pada akhirnya, yang akan tinggal bukanlah suara-suara yang hari ini begitu keras.

Suara itu akan hilang bersama waktu.

Yang akan tinggal adalah tangan yang pernah menolong.

Hati yang pernah menguatkan.

Pelayanan yang pernah dirasakan.

Dan kebaikan yang pernah diberikan dengan tulus.

Sebab fitnah mungkin mampu melukai nama seseorang untuk sementara, tetapi ketulusan yang terus dijaga akan meninggalkan jejak jauh lebih panjang.

Mungkin hari ini langit sedang mendung.

Mungkin jalan terasa berat.

Mungkin ada banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Tetapi jangan pernah kehilangan keyakinan bahwa setelah gelap, selalu ada pagi.

Setelah hujan, selalu ada pelangi.

Dan setelah badai, selalu ada ketenangan.

Saya percaya, suatu hari nanti masyarakat akan melihat semuanya dengan lebih jernih.

Bukan berdasarkan siapa yang paling keras berbicara.

Tetapi berdasarkan siapa yang tetap bekerja ketika yang lain sibuk berbicara.

Bukan berdasarkan siapa yang paling banyak memuji.

Tetapi berdasarkan siapa yang tetap setia ketika keadaan tidak lagi mudah.

Karena pada akhirnya, kebenaran tidak perlu berteriak.

Ia hanya perlu waktu.

Dan ketika waktunya tiba, kebenaran akan berdiri dengan sendirinya.

Untuk Ibu Husniah Talenrang, tetaplah kuat.

Tetaplah rendah hati.

Tetaplah tulus.

Tetaplah melayani.

Jika hari ini ada yang tidak memahami perjuangan Ibu, mungkin biarkan waktu yang menjelaskan.

Jika hari ini ada yang menyakiti, semoga hati tetap lapang untuk memaafkan.

Dan jika hari ini langkah terasa berat, ingatlah bahwa setiap perjuangan yang dilakukan dengan ketulusan tidak pernah benar-benar sia-sia.

Sebab mungkin manusia bisa lupa pada kata-kata kita, tetapi mereka tidak akan mudah lupa pada kebaikan yang pernah kita berikan.

Semoga segala badai segera berlalu.

Semoga segala kabut segera tersibak.

Dan semoga cahaya kebenaran kembali menerangi jalan.

Tetap berdiri, Ibu.
Tetap melangkah.
Tetap mengabdi.

Karena suatu hari nanti, ketika semua suara telah berhenti, yang tersisa hanyalah jejak.

Dan semoga jejak itu adalah jejak kebaikan, ketulusan, dan pengabdian.

🤝🙏🤍

Zainal Arifin Daeng Boko(As7M)

Lebih baru Lebih lama