Gebrakan Anwar Hafid: Ubah Wajah Sulteng Lewat Beasiswa ITB dan Revolusi Mental.

GUBERNUR SULAWESI TENGAH, Anwar Hafid, tengah menjadi sorotan publik berkat gaya kepemimpinannya yang dinilai "out of the box"/F-Tim Media Berani 


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, tengah menjadi sorotan publik berkat gaya kepemimpinannya yang dinilai "out of the box". Menggabungkan nilai religiusitas yang kental dengan ambisi besar di sektor pendidikan, ia berhasil membawa warna baru dalam birokrasi di Negeri Seribu Megalit.


Melalui program unggulan Berani Cerdas, Anwar Hafid tidak hanya bicara teori, melainkan aksi nyata dalam memutus rantai keterbatasan akses pendidikan.


Investasi Otak: 23 Ribu Anak Muda Kuliah Gratis Data terbaru menunjukkan angka yang cukup mengejutkan. 


Sebanyak 23.568 mahasiswa telah merasakan manfaat dari beasiswa Berani Cerdas. Program ini bukan sekadar bantuan finansial, melainkan jembatan bagi putra-putri daerah untuk menembus kampus elit.


Kolaborasi Strategis: Pemprov Sulteng sukses menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi nasional, termasuk raksasa teknologi, Institut Teknologi Bandung (ITB).


Inklusivitas: Tanpa melihat latar belakang ekonomi, setiap anak muda Sulteng kini memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di level nasional.


"Berani Cerdas nampaknya akan menuai keberhasilan dalam cara pandang masyarakat," ujar Pengamat Politik Universitas Tadulako (UNTAD), Nur Alamsyah (Nuralam), Jumat (23/01/2026).


Kepemimpinan Berbasis Moral: Shalat Berjamaah Jadi Tradisi




Di sisi lain, Anwar Hafid dikenal dengan pendekatan yang sangat humanis dan religius. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai menara gading, melainkan amanah moral.


Salah satu kebijakan yang paling mencolok adalah imbauan shalat berjamaah bagi seluruh pegawai di waktu shalat. Bagi Anwar, religiusitas bukan sekadar simbol, melainkan fondasi etika dalam mengambil setiap kebijakan publik.


“Pak Anwar muncul sebagai citra yang berbeda. Beliau membawa nilai religiusitas yang membumi, menciptakan pemimpin yang tidak hanya inklusif tapi juga memiliki integritas moral,” tambah Nuralam.***


Source : Tim media Berani 

Lebih baru Lebih lama