The Link Lounge Batam: LC Jadi Kedok, Porstitusi Diduga Berjalan Terang-terangan


Batam Sambar .id — Gemerlap malam Batam kembali memperlihatkan wajah aslinya. Di balik lampu remang dan dentuman musik, The Link Lounge diduga kuat bukan sekadar tempat hiburan malam, melainkan lokasi praktik prostitusi terselubung yang dijalankan rapi, sistematis, dan nyaris tanpa gangguan hukum, berkedok layanan Lady Companion (LC) .


Penelusuran Sambar id menemukan indikasi kuat bahwa peran LC di The Link Lounge melampaui batas pemandu minum atau teman bernyanyi. Transaksi “kencan berbayar” diduga menjadi menu utama, dilakukan dengan pola aman, tertutup, namun diketahui luas di kalangan tertentu.


Seorang narasumber di kawasan Nagoya menyebut, tarif sekali “paket kencan” dipatok Rp1,5 juta hingga Rp2 juta, tergantung pilihan tamu. Wisatawan asing, terutama dari Singapura, disebut sebagai pelanggan dominan. 


“Itu bukan rahasia. Bisa dibawa keluar. Harga sudah jelas. Tinggal pilih,”ujar sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.


Prostitusi Berkedok, Hukum di Kelabui


Jika dugaan ini benar, maka label LC hanyalah kamuflase untuk menghindari jerat hukum. Praktik ini bukan spontan, melainkan berjalan terstruktur, mengindikasikan adanya pengelolaan, pembagian peran, dan sistem pengamanan internal.


Lebih ironis, para LC disebut mayoritas berusia di atas 18 tahun, namun rentan dieksploitasi karena sistem kerja yang tidak transparan dan minim perlindungan.


Pertanyaan keras pun muncul: 

Apakah ini kelalaian aparat, pembiaran, atau justru ada perlindungan tak terlihat?


Nama Lama Pola Lama


Informasi lapangan menyebut sosok berinisial “Koko AK” sebagai pengendali operasional The Link Lounge — nama yang disebut-sebut pernah mengelola THM Dinasti. Jika benar, maka ini menguatkan dugaan bahwa praktik lama hanya berganti baju, sementara pola dan jaringan tetap sama.


Aparat, Imigrasi Kemana Arah Mata Kalian? 


Masuknya wisatawan asing yang dengan mudah mengakses dugaan layanan prostitusi menampar keras fungsi pengawasan imigrasi.


Di mana Imigrasi saat WNA diduga bebas mencari layanan yang melanggar norma dan hukum?


Lebih Tajam Lagi Pertanyaan


Apakah Batam sengaja dibiarkan menjadi surga prostitusi terselubung bagi turis asing, sementara aparat memilih tutup mata?


Diam Adalah Sikap


Hingga rilis ini diterbitkan, manajemen The Link Lounge bungkam, begitu pula instansi terkait. Namun publik mencatat satu hal penting:


Diamnya pengelola dan aparat hanya memperkuat dugaan bahwa praktik ini memang ada.


Sambar.id menegaskan:

Ini bukan isu moral semata.

Ini soal hukum yang dikelabui,

pengawasan yang lumpuh,

dan kota yang dijual murah demi uang hiburan malam.


Penelusuran Akan Terus Dilakukan


Publik berhak tahu siapa yang bermain, siapa yang melindungi, dan siapa yang membiarkan Batam tenggelam dalam praktik kotor berkedok hiburan.(Guntur) 

Lebih baru Lebih lama