Sambar.id Opini || Ramadan selalu menjadi momentum untuk merenung. Bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga tentang tanggung jawab kita terhadap sesama dan masa depan daerah yang kita cintai. Di tengah suasana spiritual seperti ini, wajar jika masyarakat mulai berbicara tentang arah dan kepemimpinan Bulukumba ke depan.
Pemilihan kepala daerah memang masih beberapa tahun lagi. Namun sejarah politik selalu menunjukkan bahwa figur-figur pemimpin lahir dari proses panjang pengabdian, bukan dari kemunculan tiba-tiba menjelang kontestasi.
Di tengah percakapan masyarakat, muncul beberapa nama yang mulai diperbincangkan sebagai figur masa depan Bulukumba. Dua di antaranya yang menarik perhatian adalah Hj. Andi Harfidah, A.M.Y dan Muallim Tampa, S.H.
Hj. Andi Harfidah dikenal sebagai sosok perempuan yang mungkin bukan lahir di Bulukumba, tetapi jejak pengabdiannya di daerah ini tidak bisa dipandang sebelah mata.
Banyak masyarakat mengenalnya sebagai pribadi yang aktif dalam kegiatan sosial serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat. Dalam dinamika kepemimpinan daerah, sering kali bukan soal dari mana seseorang berasal, tetapi seberapa besar komitmennya untuk bekerja dan mengabdi bagi daerah yang ia cintai.
Di sisi lain, ada pula nama Muallim Tampa, S.H, yang dikenal memiliki latar belakang hukum serta pemahaman yang baik terhadap tata kelola pemerintahan.
Figur dengan kapasitas seperti ini kerap dianggap penting karena daerah membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memiliki dukungan masyarakat, tetapi juga mampu memahami sistem pemerintahan dan kebijakan secara matang.
Kehadiran dua figur ini menunjukkan bahwa Bulukumba sebenarnya tidak kekurangan sumber daya manusia yang potensial. Yang dibutuhkan adalah ruang diskusi yang sehat di tengah masyarakat untuk menilai siapa yang paling layak memimpin ke depan, berdasarkan rekam jejak, integritas, serta visi pembangunan yang jelas bagi daerah.
Dalam demokrasi yang sehat, perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar. Pendukung pemerintah yang memimpin hari ini pun semestinya tidak alergi terhadap diskusi tentang masa depan daerah.
Justru dari dialog yang terbuka dan sikap yang gentleman, masyarakat bisa menilai secara jernih siapa figur yang benar-benar siap mengabdikan diri bagi Bulukumba.
Sebagai penutup, kita patut mengingat pesan bijak dari Ahmad Al-Ghazali, seorang putra daerah Kabupaten Bulukumba, yang menegaskan bahwa perubahan besar selalu berawal dari niat yang baik dan tekad yang kuat untuk berbuat bagi kemaslahatan orang banyak.
Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan atau kekuasaan, melainkan keberanian untuk mengabdikan diri demi kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, ketika masyarakat mulai membicarakan masa depan Bulukumba menuju 2029, yang paling penting bukan hanya siapa yang paling dikenal, tetapi siapa yang memiliki niat tulus, tekad kuat, dan kesungguhan bekerja untuk rakyat. Jika semangat itu menjadi dasar, maka Bulukumba tidak akan pernah kekurangan pemimpin yang mampu membawa daerah ini melangkah lebih maju dengan kehormatan dan kebanggaan bersama.
oleh:
Ahmad Al-Ghazali & A.S. Mappasomba
(Penasehat Sambar ID Kabupaten Bulukumba)





.jpg)





