SAMBAR.ID, Opini - Sulawesi Tengah bukan sekadar titik di peta Indonesia; ia adalah raksasa tidur dalam sektor kelautan. Dari riak tenang Teluk Tomini hingga kegagahan pesisir Selat Makassar, tersimpan "emas biru" yang selama ini kita kenal dengan nama lobster.
Namun, di balik kemewahan jenis mutiara, pasir, dan bambu yang menjadi primadona pasar dunia, terselip sebuah ironi: kita masih menjadi pemburu, belum menjadi peternak yang berdaulat. Ketergantungan akut pada hasil tangkapan alam adalah bom waktu bagi ekonomi pesisir.
Pola tradisional ini menempatkan nasib nelayan di bawah kendali cuaca dan fluktuasi musim yang tak menentu. Efeknya jelas; saat panen raya alam terjadi, harga anjlok karena banjir pasokan.
Sebaliknya, saat alam sedang "pelit", pasar berteriak karena kekosongan stok. Lingkaran setan ketidakpastian ini tidak hanya merugikan nelayan secara finansial, tetapi juga mengancam keberlanjutan ekosistem laut kita.
Transformasi Menuju Stabilitas Ekonomi Pesan yang dibawa oleh APINDO Sulawesi Tengah sangat jelas:
Transformasi adalah harga mati. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kemurahan hati alam.
Wilayah seperti Parigi Moutong, Donggala, hingga Morowali memiliki profil perairan yang ideal untuk pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) maupun Keramba Jaring Dasar (KJD).
Budidaya bukan sekadar soal menambah jumlah produksi, melainkan soal kepastian. Dengan budidaya yang sistematis, Sulawesi Tengah dapat menawarkan tiga hal yang sangat dicintai pasar internasional (khususnya Asia):
Kontinuitas: Pasokan yang selalu tersedia tanpa mengenal musim.
Kualitas: Standar ukuran dan kesehatan lobster yang terjaga lewat teknologi.
Keberlanjutan: Mengurangi beban eksploitasi di alam liar, sehingga populasi alami memiliki ruang untuk bernapas dan memulihkan diri.
Bukan Sekadar Wacana, Tapi Aksi Kolektif
Tentu saja, memindahkan kemudi dari perahu tangkap ke keramba budidaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ini adalah kerja kolosal yang membutuhkan "napas panjang" dari berbagai pihak.
Pemerintah daerah harus hadir bukan hanya sebagai pengawas, tapi sebagai fasilitator investasi dan penyedia karpet merah bagi teknologi budidaya.
Di sisi lain, para nelayan dan pelaku usaha perlu didampingi dalam masa transisi ini agar mereka memiliki kapasitas teknis untuk mengelola komoditas bernilai tinggi ini secara profesional.
Jika potensi besar ini dikelola dengan visi modern, lobster tidak lagi hanya menjadi komoditas pelengkap, melainkan pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Sulawesi Tengah memiliki modal yang lebih dari cukup: garis pantai yang panjang, habitat yang kaya, dan peluang pasar yang menganga lebar. Sekarang, pilihannya ada di tangan kita.
Apakah kita akan terus menjadi saksi terkurasnya kekayaan alam, atau menjadi aktor utama dalam industri budidaya lobster yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan?
Fajar baru perikanan Sulteng ada di budidaya, dan saatnya memulai adalah sekarang.**






.jpg)





