Sambar.id Lanny Jaya, Papua Pegunungan — Di balik bentang alam yang terjal dan keterisolasian geografis, Lanny Jaya tengah menghadapi pertarungan sunyi namun menentukan: menyelamatkan pendidikan dari keterputusan konteks, sekaligus menjaga identitas budaya dari ancaman kepunahan.
Dalam refleksi tajamnya, pegiat literasi Papua Angginak Sepi Wanimbo menegaskan bahwa pendekatan pendidikan yang seragam secara nasional tidak lagi relevan jika terus mengabaikan realitas lokal Papua. Pendidikan, menurutnya, tidak boleh tercerabut dari akar budaya dan sejarah masyarakatnya.
“Bangsa tanpa bahasa, budaya, dan sejarah akan hilang. Tetapi bangsa yang menjaganya akan berdiri kokoh di atas jati dirinya sendiri.”
Realitas Pahit di Tanah Pegunungan
Sebagai wilayah dataran tinggi dengan akses terbatas, Lanny Jaya masih bergulat dengan persoalan klasik: minimnya infrastruktur, rendahnya akses pendidikan, serta kesenjangan kualitas sumber daya manusia.
Namun persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada ketidaksesuaian materi ajar. Buku-buku pelajaran yang digunakan di sekolah-sekolah sebagian besar disusun dari perspektif luar Papua—tidak mencerminkan budaya, bahasa, maupun pengalaman hidup masyarakat setempat.
Akibatnya, pendidikan kehilangan relevansi. Lebih jauh, ia berpotensi memutus akar identitas generasi muda Papua.
Pendidikan Kontekstual: Jalan Pulang ke Akar
Pendidikan kontekstual menjadi tawaran solusi yang tidak bisa ditunda. Pendekatan ini mengintegrasikan kurikulum dengan kehidupan nyata siswa—menghidupkan bahasa ibu, cerita rakyat, serta pengetahuan lokal dalam proses belajar.
Di Lanny Jaya, langkah konkret yang didorong meliputi:
Penggunaan bahasa Lani sebagai pengantar di jenjang awal
Integrasi cerita rakyat, mitos, dan tradisi dalam materi ajar
Penguatan pengetahuan lokal seperti pertanian, lingkungan, dan kesehatan
Pelatihan guru berbasis budaya lokal
Pendekatan ini diyakini mampu menjadikan pendidikan lebih membumi, relevan, dan mudah dipahami oleh siswa.
Krisis Bahasa, Alarm Kegagalan Kebijakan
Papua merupakan salah satu wilayah dengan keragaman bahasa terbesar di dunia. Namun, kenyataan pahit tak bisa dihindari—sejumlah bahasa kini berada di ambang kepunahan.
Wanimbo menilai lemahnya keberpihakan kebijakan di berbagai daerah sebagai penyebab utama. Banyak pemerintah daerah belum menjadikan bahasa dan budaya lokal sebagai bagian wajib dalam sistem pendidikan.
“Ini bukan sekadar kelalaian, tetapi pengabaian terhadap identitas.”
Padahal, sejumlah daerah seperti Tolikara, Jayapura, Biak, dan Jayawijaya telah lebih dulu mengambil langkah progresif dengan memasukkan muatan lokal dalam kurikulum sekolah.
Negara Tidak Boleh Absen
Pendidikan kontekstual tidak akan lahir tanpa keberpihakan kebijakan. Dibutuhkan komitmen lintas sektor:
Pemerintah daerah menghadirkan regulasi dan anggaran
Pemerintah pusat memberikan dukungan teknis
Lembaga adat menjaga nilai budaya
Komunitas literasi menggerakkan kesadaran kolektif
Sorotan tajam juga mengarah pada DPRK Lanny Jaya yang dinilai belum menghadirkan produk hukum yang berpihak pada pelestarian bahasa dan budaya lokal.
Ironi di Tanah Sendiri
Harapan sebenarnya telah tumbuh dari anak-anak negeri. Sejumlah intelektual asli Papua telah menyusun buku ajar berbasis budaya Lani.
Namun ironinya, karya-karya tersebut lebih banyak dimanfaatkan oleh daerah lain, sementara di tanah kelahirannya sendiri belum menjadi prioritas.
Ini bukan sekadar ironi—ini adalah alarm keras.
Menjaga Warisan, Menentukan Masa Depan
Bagi masyarakat Lani, bahasa dan budaya bukan hanya identitas, tetapi fondasi masa depan. Tanpa itu, pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang kehilangan arah dan jati diri.
Tulisan ini menjadi seruan moral sekaligus kritik terbuka: pembangunan pendidikan di Papua, khususnya di Lanny Jaya, harus kembali ke akar—menghormati bahasa, merawat budaya, dan menghidupkan sejarah.
Karena pada akhirnya, masa depan Papua tidak ditentukan oleh beton dan gedung, tetapi oleh keberanian menjaga jati diri. (Bawi Kogoya)






.jpg)



