Program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Kodim 1411/Bulukumba melalui TMMD ke-127 telah mengubah banyak cerita sunyi yang selama ini tersembunyi di balik dinding lapuk dan lantai tanah.
Sebelum rumah itu diperbaiki, hari-hari mereka dipenuhi kecemasan. Setiap hujan turun, keluarga harus bersiap menampung air yang menetes dari atap bocor. Malam-malam panjang dilalui tanpa tidur nyenyak. Anak-anak kerap terbangun karena dingin, sementara orang tua hanya bisa menatap langit-langit yang nyaris roboh.
Tak ada pilihan. Hidup harus tetap berjalan meski rumah tak lagi memberi rasa aman.
“Kami biasa duduk di satu sudut kalau hujan deras, supaya tidak kehujanan di dalam rumah sendiri,” kenang salah satu penerima manfaat dengan suara bergetar.
Namun semuanya berubah saat Satgas TMMD datang. Awalnya, mereka tak benar-benar percaya rumahnya akan diperbaiki. Harapan itu terasa terlalu besar untuk mereka yang terbiasa hidup seadanya.
Hari demi hari, harapan itu perlahan dibangun—bersama bata, semen, dan peluh para prajurit. Warga ikut membantu, mengangkat pasir, menyiapkan air, bahkan sekadar menemani dengan senyum dan doa. Di situlah rumah itu mulai berdiri, bukan hanya dari material, tapi dari kebersamaan.
Komandan Satgas TMMD ke-127, Letkol Inf. Heraldo Tabasonda, menyebut bahwa program RTLH bukan sekadar pembangunan fisik. Di balik setiap rumah yang diperbaiki, ada upaya mengembalikan martabat dan rasa aman bagi keluarga penerima.
“Rumah layak huni adalah awal dari kehidupan yang lebih baik. Ketika tempat tinggal aman, masyarakat bisa menatap masa depan dengan lebih tenang,” ujarnya.
Kini, rumah itu berdiri sederhana namun kokoh. Dindingnya rapi, atapnya kuat, lantainya tak lagi becek. Perubahan yang bagi sebagian orang mungkin terlihat biasa, tetapi bagi keluarga ini adalah keajaiban kecil yang mengubah segalanya.
Anak-anak kini bisa belajar tanpa takut buku mereka basah. Ibu tak lagi khawatir saat angin malam datang. Ayah bisa beristirahat tanpa rasa was-was atap runtuh saat tidur.
Di ruang tamu kecil itu, terselip senyum yang dulu jarang terlihat. Bukan karena hidup mereka tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena satu beban besar telah diangkat: rasa takut kehilangan tempat berlindung.
Program TMMD mungkin akan selesai, para prajurit akan kembali ke satuan masing-masing. Namun rumah itu akan tetap berdiri, menjadi saksi bahwa kepedulian bisa mengubah hidup seseorang.
Di pelosok Bulukumba, rumah-rumah sederhana itu kini menyimpan cerita besar. Cerita tentang tangan-tangan yang saling membantu, tentang negara yang hadir tanpa banyak kata, dan tentang mimpi kecil yang akhirnya punya tempat untuk pulang.
Karena bagi mereka, rumah ini bukan hanya tempat berteduh. Rumah ini adalah harapan yang akhirnya punya alamat.
Penulis : Pendi Kodim 1411/ Blk





.jpg)





