Sigap Untuk Herlang: Ketika Pemimpin Hadir Dengan Hati


Sambar.id Herlang, Bulukumba — Di tengah harapan masyarakat akan pelayanan yang cepat dan tulus, sosok Andi Fidya Samad hadir membawa warna berbeda. Ia tidak sekadar memimpin dari balik meja, tetapi memilih berjalan di antara warganya—mendengar, merasakan, dan bertindak.


Bagi sebagian warga, kehadiran seorang camat mungkin terasa jauh. Namun di Herlang, cerita itu berubah. Ketika jalan rusak menghambat aktivitas, ketika banjir menggenangi rumah, atau saat persoalan sosial menghimpit kehidupan, ia datang tanpa menunggu lama. Bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri.


Sentuhan kepemimpinannya terasa dari hal-hal sederhana namun bermakna. Pelayanan malam yang dibuka dua kali dalam sepekan menjadi harapan baru bagi warga yang tak sempat mengurus kebutuhan administrasi di siang hari. Sebuah langkah kecil, namun berdampak besar—karena di baliknya ada niat untuk benar-benar melayani.


Dengan menjunjung nilai sipakatau, sipakalabbiri, sipakainga, ia merangkul semua kalangan. Tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan, hingga petani dan nelayan duduk bersama tanpa sekat, menyatukan gagasan demi kemajuan Herlang. Kepemimpinannya tidak meninggikan diri, tetapi justru merendah untuk mengangkat banyak orang.


Perjalanan panjangnya di dunia organisasi dan pemerintahan membentuk pribadi yang tenang namun tegas. Ia memahami bahwa menjadi pemimpin bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab. Tentang bagaimana menghadirkan rasa aman, keadilan, dan harapan di tengah masyarakat.

Dalam keterbatasan anggaran dan berbagai tantangan, ia tetap berupaya menghadirkan program-program pembangunan dari berbagai tingkatan. Perlahan, perubahan itu terasa. Pelayanan membaik, suasana tetap kondusif, dan yang paling penting—masyarakat merasa diperhatikan.


Di balik semua itu, ada kepedulian yang tak banyak terlihat, namun sangat dirasakan. Masyarakat kurang mampu menemukan tempat mengadu, para tokoh agama merasakan dukungan, dan warga merasakan bahwa pemerintah benar-benar hadir untuk mereka.


Herlang mungkin bukan wilayah tanpa masalah. Namun dengan kepemimpinan yang bekerja dengan hati, harapan itu terus tumbuh. Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang kuat—mereka membutuhkan pemimpin yang peduli.


Dan di Herlang, harapan itu masih menyala.


we❤Bulukumba

dikerja bukan dicerita

Lebih baru Lebih lama