SAMBAR.ID PALEMBANG — Di tengah hiruk-pikuk retorika pelayanan publik yang kerap berhenti pada janji, sebuah pemandangan berbeda justru hadir dari Lorok Pakjo. Tanpa gemuruh seremoni berlebihan, program bedah rumah yang digelar jajaran Pemasyarakatan menjelma menjadi bukti konkret: negara tidak sekadar bicara, tetapi benar-benar bekerja.
Di sudut kawasan itu, rumah yang sebelumnya rapuh kini berdiri lebih layak. Namun yang lebih penting dari sekadar perubahan fisik adalah tumbuhnya kembali harapan—sesuatu yang selama ini kerap luput dari perhatian kebijakan yang terlalu administratif.
Mengusung semangat “Merangkul Harapan, Membangun Kepercayaan, Menghadirkan Kepedulian”, kegiatan ini tak berhenti pada slogan. Kepala Kantor Wilayah, Erwedi Supriyatno, hadir langsung di lokasi, didampingi seluruh Kepala UPT Pemasyarakatan se-Palembang. Kehadiran ini bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa pelayanan publik harus menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat.
Di sinilah letak perbedaannya. Ketika banyak program sosial berakhir sebagai laporan di atas meja, bedah rumah di Lorok Pakjo justru hidup dalam interaksi nyata—antara petugas dan warga, antara negara dan rakyatnya. Ada kehangatan yang tak bisa direkayasa, ada kepercayaan yang perlahan dipulihkan.
Pemasyarakatan, yang selama ini identik dengan tembok tinggi dan batasan ruang, menunjukkan wajah lain: lebih terbuka, lebih humanis, dan lebih membumi. Bahwa tugas mereka bukan semata menjaga dan membina, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat.
Momen haru yang tercipta di lokasi menjadi saksi bahwa pelayanan publik sejati tidak diukur dari seberapa besar anggaran digelontorkan, tetapi dari seberapa dalam dampaknya dirasakan. Sinergi antara pimpinan, jajaran UPT, dan masyarakat menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan—sesuatu yang hari ini semakin mahal nilainya.
Bedah rumah di Lorok Pakjo bukan hanya tentang memperbaiki bangunan yang rusak. Ia adalah pernyataan tegas bahwa negara masih punya wajah—dan wajah itu, setidaknya hari ini, tampak lebih peduli.
Di tengah berbagai kritik terhadap layanan publik, langkah kecil ini justru menghadirkan pesan besar: ketika negara benar-benar hadir, harapan bukan lagi sekadar wacana—melainkan kenyataan.
(***)







.jpg)



