Penobatan Raden Anom Pager Kancana Ke V Jadi Ketum Pager Kancana Akan dihadiri Pihak Kementrian Budaya Republik Indonesia

SAMBAR.ID | BANDUNG – Perguruan Pencak Silat Pager Kancana, salah satu perguruan tertua dan paling bergengsi di Jawa Barat, akan menorehkan sejarah baru dengan penobatan Raden Anom Piar Pratama sebagai Ketua Umum Pengurus Besar. Acara penobatan yang dijadwalkan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Bandung ini akan dihadiri langsung oleh perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia, serta sejumlah pejabat daerah.


Keputusan pengangkatan Rd. H. Piar Pratama S., SH., cucu dari Guru Besar ke-3, sebagai "Putra Mahkota" sekaligus Ketua Umum, merupakan hasil musyawarah mufakat antara Dewan Adat, keluarga besar pendiri, dan sesepuh perguruan. Nama-nama seperti Rd. Cucun Samsudin, S.H., Rd. Edi Rosadi, H. Dedi Supardi, dan Asyikin Dodi Sugandi sepakat bahwa sosok muda ini dinilai mampu membawa angin segar bagi organisasi.


"Mereka yakin bahwa kepemimpinan generasi muda akan membawa perubahan positif, baik dalam tata kelola organisasi, pembinaan prestasi atlet, maupun pelestarian seni tradisi pencak silat," ujar Rd. Cucun Samsudin, selaku perwakilan Dewan Adat.


Jejak Sejarah dan Filosofi "Kancana"


Pager Kancana didirikan pada 12 Mei 1933 di Cigereleng, Kabupaten Bandung, oleh Rd. Bardjah, seorang pendekar yang juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Perguruan ini lahir bersama empat perguruan saudara lainnya yang menggunakan nama "Kancana" (emas/kuning), yakni Simpay Kancana, Paku Kancana, Sekar Kancana, dan Payung Kancana. Kelima nama ini mengandung filosofi persaudaraan yang kuat:

1. Pager: Benteng atau pelindung.

2. Paku: Penguat.

3. Simpay: Pengikat.

4. Sekar: Pengembangan atau publikasi.

5. Payung: Pembimbing atau penasihat.


Ilmu yang diajarkan di Pager Kancana merupakan perpaduan harmonis dari berbagai aliran murni, termasuk Cimande, Cikalong, Sera, Syahbandar, Madi, Ciwaringin, dan Buang Kelid. Kekhasan teknik inilah yang membuat Pager Kancana memiliki identitas kuat di kancah persilatan nasional.


Warisan Prestasi dan Mental Juara


Sejak era Guru Besar pertama, Rd. Bardjah, Pager Kancana telah mencetak banyak prestasi. Rd. Bardjah sendiri meraih medali emas di PON I Solo (1948) dan PON II Medan (1951). Tradisi juara ini diteruskan oleh putranya, Alm. Odid Soepardi Bardjah (Guru Besar ke-2), yang meraih emas di PON V Bandung (1961) serta berbagai kejuaraan ORPESI.


Semangat juang dan mental juara tersebut terus dijaga hingga kini. Di bawah kepemimpinan sebelumnya, perguruan ini konsisten berpartisipasi dan meraih prestasi di tingkat regional, nasional, hingga internasional.


Tonggak Baru di Era Modern


Penunjukan Rd. Piar Pratama dianggap sebagai langkah strategis untuk menjaga kelestarian warisan budaya di tengah arus modernisasi. Dengan latar belakang pendidikan hukum dan kedekatan darah dengan garis keturunan pendiri, diharapkan ia dapat menyeimbangkan antara pelestarian nilai-nilai luhur adat dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.


Kehadiran perwakilan Kementerian Kebudayaan dalam acara penobatan nanti menjadi bukti pengakuan negara terhadap peran Pager Kancana dalam melestarikan Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Acara ini bukan sekadar seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan simbol komitmen bersama untuk menjaga marwah pencak silat sebagai identitas bangsa.


(Hans)

Lebih baru Lebih lama