Antisipasi Karhutla Musim Kemarau 2026 ,KPH Banyumas Barat Gencar Pasang Papan Larangan

 




Cilacap,Sambar id

BANYUMAS — Menghadapi potensi ancaman kebakaran pada musim kemarau tahun 2026, Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat mengintensifkan langkah-langkah preventif.


Pencegahan dan antisipasi dini Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus dipacu di seluruh wilayah kerja Satuan Kerja (Satker) lapangan.


Langkah tegas ini merujuk pada Surat Perintah Administratur KKPH Banyumas Barat Nomor 0465/058.4/BYB/2026.


Dalam instruksi tersebut, Administratur KKPH Banyumas Barat, Hery Merkussiyanto Putro, S.Hut, mendelegasikan wewenang operasional kepada Wakil Administratur (Waka Adm/KSKPH), Ari Kurniawan, guna memimpin langsung gerakan pencegahan Karhutla di lapangan.


Menindaklanjuti arahan tersebut, Ari Kurniawan memerintahkan seluruh jajaran jajaran Satker untuk bergerak masif.


Salah satu aksi cepat ditunjukkan oleh Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Rawa Barat yang langsung melancarkan pemasangan spanduk dan plang larangan pembakaran di lokasi strategis.


Pemasangan plang imbauan difokuskan pada area rawan seperti Resort Rawa Apu dan Resort Cikujang, tepatnya di kawasan Petak 2 dan Petak 5 tanaman Kayu Putih.


Kawasan ini mendapat perhatian khusus karena komoditas tanaman kayu putih yang tergolong sensitif dan rawan terbakar saat cuaca kering.


Waka Adm/KSKPH Ari Kurniawan menyampaikan bahwa Pemasangan spanduk larangan ini bukan sekadar formalitas visual, melainkan bagian dari strategi sosialisasi terpadu.


"Langkah ini diambil oleh KPH Banyumas Barat untuk meminimalisir gangguan kebakaran hutan dan lahan.


Kita mengedepankan pencegahan dini (early warning).


Selain media peringatan berupa plang dan spanduk di titik-titik rawan, kami juga menginstruksikan jajaran di lapangan untuk aktif menggelar sosialisasi terbuka secara langsung bersama masyarakat sekitar hutan serta para stakeholder terkait," ujarnya.


Sinergi antara imbauan tertulis dan pendekatan humanis secara langsung (face-to-face) ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran kolektif.


Dengan demikian, masyarakat peduli hutan dapat saling menjaga dan meminimalisir risiko Karhutla sepanjang musim kemarau 2026.

Jurnalis Sugeng Rahmat

Editor&kordinator liputan

Lebih baru Lebih lama