Rokan Hilir – Sebuah fenomena menggelitik sekaligus ironis tengah menyelimuti tata kelola pemerintahan di Kabupaten Rokan Hilir (Rohil). Sudah jadi rahasia umum: kalau bawahan bikin blunder, bos yang menanggung malu. Aturan tidak tertulis ini kembali terbukti mutlak lewat kasus rusaknya kondisi Sekolah Dasar (SD) di Serusa yang mendadak ramai di media sosial.
Fasilitas pendidikan yang sebelumnya memprihatinkan tersebut seolah-olah ghaib dari pengawasan instansi terkait. Respon cepat baru terlihat secara ajaib setelah akun/pihak viral "Waoress" turun tangan mendokumentasikan dan menyebarkannya ke publik.
Pertanyaan besar pun menyeruak di tengah masyarakat: Ke mana Dinas Pendidikan Rohil selama ini? Apakah begitu sibuk dengan urusan administratif hingga abai terhadap kondisi fisik sekolah di wilayahnya sendiri?
'Alkimia' Birokrasi: Mengubah Keluhan Jadi Panggung Pencitraan
Bukannya menyampaikan permohonan maaf atas kelalaian penanganan awal, pola penanganan yang ditunjukkan instansi terkait justru menggelitik. Begitu kasus SD Serusa viral dan penanganan diambil alih, respon yang muncul tak ubahnya sulap: spanduk dipasang, pita dipotong, dan foto bersama dilakukan seolah-olah penanganan tersebut adalah program kerja perencanaan mandiri yang sukses.
Kondisi ini menempatkan sosok Bupati pada posisi serba salah. Di satu sisi harus mengumbar senyum formalitas, di sisi lain wajah kepala daerah yang terus-menerus menjadi sasaran kritik publik (digoreng) di kolom komentar netizen akibat kinerja jajaran di bawahnya.
Efek Domino: Bagaimana Jika SOP 'Nunggu Viral' Menular?
Politik penanganan berbasis virallogis ini dikhawatirkan menjadi acuan standar (SOP) bagi dinas-dinas lainnya:
• Dinas Pekerjaan Umum (PU): Jalan rusak berlubang dibiarkan hingga menyerupai kolam. Dinas baru datang membawa aspal—lengkap dengan tim media—setelah ada warga yang nekat memancing ikan di tengah jalan dan videonya ditonton jutaan kali.
• Dinas Lingkungan Hidup: Tumpukan sampah dibiarkan menggunung hingga muncul petisi atau aksi relawan asing, baru kemudian armada truk sampah dikerahkan secara kolosal dengan sirine meraung-raung.
• Dinas Perhubungan: Lampu lalu lintas padam berbulan-bulan dibiarkan hingga kondisi persimpangan semrawut. Klarifikasi baru dirilis setelah ada warga berkostum pahlawan super turun tangan mengatur lalu lintas secara sukarela.
Catatan Redaksi:
Jika instansi daerah baru bekerja ekstra setelah "disenggol" oleh akun viral, masyarakat tentu bertanya-tanya: Butuh berapa banyak 'Waoress' lagi agar seluruh fasilitas publik terurus tanpa perlu menunggu jagat maya heboh terlebih dahulu?
Laporan: Tim Jurnalis (Legiman)
Sumber: Masyarakat









