Sambar.id, RIAU |
Rokan Hilir — Ironi pengawasan anggaran negara kembali mencoreng kepercayaan publik. Di saat masyarakat dituntut taat membayar pajak, kas negara justru dinilai konsisten menjadi "lumbung bancakan" oknum pejabat dan koruptor. Praktik ini tak hanya menggerogoti keuangan publik, tetapi juga langsung memukul kualitas hidup rakyat kecil.
Sorotan Kritis: Pesta Pora di Atas Kas Negara Uang Publik Jadi Bahan Bakar Politik
Setiap rupiah yang dipotong dari gaji dan transaksi rakyat idealnya mengalir balik dalam bentuk fasilitas publik yang layak. Namun, alih-alih menikmati jalan mulus atau berobat murah, rakyat justru menyaksikan gaya hidup mewah para pemangku kebijakan yang tidak masuk akal jika hanya mengandalkan gaji pokok.
"Mustahil harta melimpah itu murni dari kerja keras. Sumbernya jelas: kas publik yang ditilep secara perlahan namun pasti," tegas laporan Biro Redaksi Rohil, Jumat (14/8/2026).
Modus Tajam: Yang Kaya Main Mata, Yang Miskin Diperas
Kebocoran anggaran ini kian parah ketika muncul wacana pemerintah untuk terus menaikkan tarif pajak demi menutupi defisit. Padahal, akar masalahnya terletak pada sistem yang bocor:
1.Celah Hukum Bagi Penguasa: Oknum kaya dan berkuasa disinyalir aktif "bermain mata" dengan oknum petugas pajak untuk menyunat kewajiban mereka.
2.Beban Dilimpahkan ke Warga: Pendapatan negara merosot akibat manipulasi kelas atas, tetapi celah tersebut justru ditutupi dengan memeras kantong masyarakat biasa.
3.Birokrasi Lamban dan Boros: Anggaran yang tersisa habis untuk menopang operasional birokrasi yang jauh dari kata efisien.
Sampai Kapan Suara Rakyat Cuma Jadi "Angin Lalu"?
Pola ini terus berulang: rakyat mengeluh di media sosial dan tulisan publik, namun narasi penguasa dengan cepat mengalihkan isu. Publik ditekan untuk memahami keadaan negara, sementara oknum di balik layar tetap menikmati manisnya mencuri uang pajak.
Demokrasi sejatinya bukan cuma soal datang ke TPS setiap lima tahun sekali, melainkan menjaga agar setiap sen uang publik benar-benar kembali ke tangan publik. Jika ketidakadilan fiskal ini terus dibiarkan tanpa perlawanan suara dari masyarakat, tradisi bancakan uang rakyat tidak akan pernah usai.
Laporan: Tim Jurnalis (Legiman)
Sumber: Masyarakat










