JAKARTA, SAMBAR.ID — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan memasuki fase yang membutuhkan penguatan serius. Kebutuhan personel dan peralatan pemadam di lapangan menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto dalam rapat penanganan karhutla.
Dalam rapat tersebut, Ahmad Toyib menyampaikan bahwa tambahan armada masih diperlukan untuk meningkatkan efektivitas operasi pemadaman.
“Mohon izin penambahan kalau bisa 2 sampai 3 unit lagi Bapak Presiden,” ujar Ahmad Toyib.
Tak berhenti pada kebutuhan armada, Presiden Prabowo juga menanyakan ketersediaan pompa air untuk memperkuat pemadaman dari darat. Ahmad Toyib menyebut Kalimantan Tengah masih membutuhkan tambahan pompa dalam jumlah besar, yakni sekitar 100 hingga 200 unit.
Kebutuhan tersebut langsung mendapat perhatian Kepala Negara. Presiden Prabowo mengambil langkah tindak lanjut, termasuk melakukan komunikasi melalui sambungan telepon di tengah rapat.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan teknis di lapangan tidak sekadar dicatat, tetapi diarahkan untuk segera dipenuhi guna mempercepat pengendalian karhutla.
Pantau Kalimantan Selatan
Presiden Prabowo juga terhubung melalui konferensi video dengan jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam komunikasi tersebut, Presiden menerima laporan langsung dari Gubernur Kalimantan Selatan bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) mengenai perkembangan situasi karhutla serta langkah penanganan yang dilakukan di wilayah tersebut.
Koordinasi lintas wilayah menjadi penting mengingat karhutla di Kalimantan tidak dapat ditangani secara parsial. Kesiapan armada, pompa air, personel, serta koordinasi pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor kunci untuk memastikan operasi pemadaman berjalan efektif.
Pesan dari rapat tersebut jelas: ketika api meluas, respons negara tidak boleh lambat. Kebutuhan di lapangan harus segera diterjemahkan menjadi tindakan, bukan berhenti pada laporan dan rapat.
Sumber: BPMI Setpres










