
Refleksi Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiulawal 1448 H bersama KH. Sholachuddin Abdul Djalil M. Pesulukan Tulungagung (PETA), Jawa Timur.
Sambar.id, Opini |
BEKASI — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiulawal 1448 Hijriah selalu menjadi momentum sakral bagi umat Islam untuk mengevaluasi perjalanan moral spiritual. Tahun ini, pengasuh Pesulukan Tulungagung (PETA), Jawa Timur, KH. Sholachuddin Abdul Djalil M., mengingatkan kembali prinsip fundamental risalah kenabian yang kerap terlupakan di era modern: penghapusan total sekat stratifikasi sosial, kasta, dan senioritas semu di hadapan Allah SWT.
Hiruk-pikuk perayaan hari lahir Baginda Nabi Besar Muhammad SAW kembali menggema di berbagai penjuru Nusantara. Di tengah semaraknya kegiatan keagamaan, pesan moral yang tajam dan mencerahkan datang dari bumi Tulungagung, Jawa Timur. Melalui Pesulukan asuhannya, ulama kharismatik tersebut menyampaikan untaian mutiara hikmah yang menyoroti pergeseran mentalitas masyarakat modern yang kerap terjebak dalam feodalisme kultural, klaim kedudukan spiritual (maqam), serta pengelompokan kelas sosial berbasis senioritas.
"Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengajarkan eksistensi derajat junior dan senior, kamu kelompok rendah, kamu kelompok tinggi, kamu maqamnya tinggi, kamu maqamnya rendah, gak pernah. Lihatlah tarikh, sejarah, Rasul...."
— KH. Sholachuddin Abdul Djalil M. (Pengasuh Pesulukan Tulungagung/PETA, Jawa Timur)
Meninjau Kembali Tarikh Nabawi: Menghapus Sekat Kasta dan Senioritas
Lebih lanjut, KH. Sholachuddin Abdul Djalil M. menekankan pentingnya menengok kembali lembaran sejarah autentik (tarikh) kehidupan Rasulullah SAW. Dalam praktiknya, Nabi Muhammad SAW tidak pernah memberikan keistimewaan personal berdasarkan klaim senioritas keislaman semu untuk merendahkan mereka yang baru bergabung atau berasal dari golongan marginal.
Sistem kemasyarakatan yang dibangun oleh Nabi SAW di Madinah adalah masyarakat yang berbasis pada nilai takwa, keadilan hukum, dan persaudaraan sejati (ukhuwah islamiyah), bukan atas dasar kasta feodal. Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi tahun 1448 H ini diharapkan mampu menjadi momentum introspeksi massal bagi umat Islam di Indonesia agar senantiasa merendahkan hati, menghilangkan ego sektoral, serta mempraktikkan ajaran Islam yang inklusif dan memuliakan sesama manusia.
Dikutip: 12 Rabiul awal 1448 H. Pesulukan Tulungagung (PETA), Jawa Timur
(Red)









