MAKASSAR, SAMBAR.ID — Prestasi akademik sekaligus pengabdian institusional ditorehkan Kompol Dr. Muhammad Agus, S.E., M.M. Perwira menengah Polda Sulawesi Selatan itu resmi meraih gelar Doktor Ilmu Administrasi Publik setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor Program Studi S3 Ilmu Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar (UNM), Rabu (9/9/2026).
Yang mencuri perhatian bukan sekadar gelar doktor. Muhammad Agus menuntaskan pendidikan doktoralnya hanya dalam lima semester dengan IPK 3,99, di tengah tanggung jawabnya sebagai anggota Polri.
Dalam sidang akademik tersebut, ia mempertahankan disertasi berjudul:
“Transformasi Strategi Satuan Brimob Polda Sulsel dalam Menanggulangi Kerusuhan Pasca Pilkada di Sulawesi Selatan.”
Penelitian itu berangkat dari satu persoalan penting: karakter ancaman keamanan terus berubah, sementara strategi penanganan konflik juga dituntut semakin adaptif.
Muhammad Agus menawarkan perubahan paradigma dari pendekatan yang cenderung reaktif menuju strategi yang prediktif, adaptif, terukur, humanis, terintegrasi, dan berorientasi masa depan.
Model AGUSTIF dan Tiga Tahap Penanganan
Salah satu kebaruan yang ditawarkan dalam penelitian tersebut adalah Model AGUSTIF, sebuah model transformasi strategi penanganan kerusuhan yang mengintegrasikan tiga tahapan utama: preventif, responsif, dan restoratif.
Ketiganya tidak ditempatkan sebagai langkah yang berdiri sendiri, melainkan sebagai satu siklus penanganan keamanan.
Artinya, tugas aparat bukan hanya hadir ketika kerusuhan pecah. Pencegahan harus dimulai sebelum eskalasi terjadi, respons harus terukur ketika konflik berlangsung, dan pemulihan harus dilakukan setelah situasi kembali terkendali.
Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan aspek kemanusiaan sebagai bagian penting dalam strategi pengamanan.
Muhammad Agus juga mengintegrasikan nilai kearifan lokal Siri’ na Pacce dalam transformasi strategi Brimob. Nilai sosial-budaya masyarakat Sulawesi Selatan itu dipandang relevan untuk memperkuat pendekatan keamanan yang humanis dan sensitif terhadap karakter masyarakat setempat.
Pengalaman Lapangan Menjadi Modal Akademik
Disertasi Muhammad Agus tidak lahir semata dari ruang akademik. Pengalaman operasionalnya di tubuh Polri menjadi salah satu fondasi dalam membangun penelitian tersebut.
Sebelum bertugas di Biro Operasi Polda Sulsel, ia pernah dipercaya menjabat Danyon D Pelopor Satbrimob Polda Sulsel.
Saat ini, ia menjabat Kasubbagrenbinops Bagbinops Roops Polda Sulsel.
Perpaduan antara pengalaman lapangan dan kajian akademik membuat penelitian tersebut diarahkan bukan hanya untuk memperkaya teori administrasi publik, tetapi juga menghasilkan gagasan yang dapat diterapkan dalam pengembangan strategi operasi kepolisian.
Sidang promosi doktor dipimpin Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM, Supriadi Torro, bersama tim promotor dan penguji yang terdiri atas akademisi serta guru besar UNM.
Sejumlah pejabat, kolega, keluarga dan tamu undangan turut hadir. Di antaranya Brigjen Pol. (P) Dr. Drs. Adeni Muhan Daeng Pabali, M.Si., Adv., yang memberikan testimoni mewakili tamu undangan.
Hadir pula Dr. Ruslan Abu, S.H., M.H., Kabag Dalops Roops Polda Sulsel, Danden Gegana, Danki Brimob, para perwira dan Bintara Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulsel, keluarga besar Bosowa, kerabat serta tamu undangan lainnya.
Doktor Bukan Sekadar Gelar
Setelah dinyatakan berhasil menyelesaikan ujian promosi, Muhammad Agus menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih kepada pimpinan Polri, civitas akademika UNM, tim promotor dan penguji, keluarga, rekan-rekan serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan akademiknya.
“Gelar doktor ini bukan sekadar pencapaian akademik, tetapi menjadi amanah untuk terus belajar, berkarya dan memberikan kontribusi nyata. Ilmu yang saya peroleh harus dapat memberikan manfaat bagi institusi Polri, masyarakat, bangsa dan negara,” ujar Muhammad Agus.
Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi kontribusi bagi pengembangan strategi Brimob dalam menghadapi dinamika keamanan, khususnya melalui pendekatan yang lebih prediktif, profesional, terukur dan humanis.
Capaian IPK 3,99 dalam lima semester menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan akademiknya. Di tengah tuntutan tugas kepolisian, Muhammad Agus menunjukkan bahwa pendidikan dan pengabdian tidak harus berjalan berseberangan.
Kini, gelar doktor tersebut membawa konsekuensi yang lebih besar. Bukan berhenti pada seremoni akademik, melainkan bagaimana ilmu yang diperoleh diterjemahkan menjadi gagasan, kebijakan dan praktik yang memberi manfaat.
Sebab, pada akhirnya, gelar doktor bukan sekadar tambahan di belakang nama. Ia adalah amanah untuk membuktikan bahwa ilmu dapat bekerja bagi institusi, masyarakat, bangsa dan negara.











