Sinjai Kecolongan? Di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 11,14 Persen, Kisah Sahira Buka Sorotan Baru


SINJAI  SAMBAR ID— Kabupaten Sinjai tengah berada dalam sorotan dari dua sisi yang kontras. Di satu sisi, daerah ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi 11,14 persen pada triwulan I 2026, angka yang disebut sebagai pertumbuhan tertinggi di Sulawesi Selatan. 

Di sisi lain, kisah Sahira (5), balita yang tinggal bersama ayahnya di sebuah gubuk tanpa listrik di Dusun Tassoso, Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat, justru membuka pertanyaan tentang sejauh mana pertumbuhan tersebut menjangkau kelompok masyarakat paling rentan.

Data BPS Sulawesi Selatan yang diumumkan dalam agenda pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Rabu (10/6/2026), mencatat pertumbuhan ekonomi Sinjai mencapai 11,14 persen pada triwulan pertama 2026.

Angka tersebut menempatkan Sinjai di posisi teratas dibandingkan kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Selatan. Kabupaten Kepulauan Selayar berada di posisi berikutnya dengan 9,83 persen, disusul Maros 9,54 persen dan Pangkep 9,47 persen.

Bupati Sinjai, Hj. Ratnawati Arif, saat itu menyebut capaian tersebut sebagai hasil kerja bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Alhamdulillah, capaian ini adalah puncak prestasi pembangunan ekonomi kita di awal tahun 2026. Ini adalah bukti nyata kerja keras dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat Sinjai,” ujar Ratnawati.

Ia juga mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat pemerintah daerah berpuas diri. 

Pertumbuhan ekonomi, menurutnya, harus dipertahankan dan manfaatnya diperluas agar benar-benar dirasakan masyarakat.

Pernyataan itu kini menemukan konteks baru ketika kondisi keluarga Sahira mencuat ke ruang publik.

Sinjai Kecolongan?

Respons cepat justru datang setelah kisah Sahira viral di media sosial.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sinjai yang baru, Andi Baso Mangunrawa, S.E., turun langsung ke Dusun Tassoso, Jumat (25/9/2026).

Di kawasan lereng Gunung Bawakaraeng dengan ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut itu, ia melihat langsung kondisi tempat tinggal Sahira dan ayahnya, Batoeng.

Gubuk yang menjadi tempat mereka bertahan hidup tidak memiliki listrik dan fasilitas dasar yang memadai.

“Kami sudah menerima laporan dan langsung turun. Ini menjadi atensi khusus kami,” ujar Andi Baso.

Dinsos Sinjai kemudian menyerahkan bantuan berupa kasur, tenda, selimut, dan makanan siap saji.

Tak berhenti pada bantuan darurat, pemerintah juga mulai menginventarisasi kebutuhan Sahira, termasuk asesmen untuk kepesertaan dalam program kesejahteraan sosial serta koordinasi dengan Dukcapil terkait kelengkapan administrasi kependudukan orang tua Sahira.

Sebelumnya, keluarga Batoeng bahkan harus menggalang donasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan pemakaman istrinya, almarhumah Banong, akibat keterbatasan ekonomi.

Kondisi tersebut kemudian mendapat sorotan dari Humas PJI Sulsel Dzoel SB.

“Sinjai kecolongan,” kata Dzoel SB.

Pernyataan itu menyentil persoalan yang lebih luas: apakah sistem pendataan dan deteksi dini terhadap keluarga rentan di wilayah terpencil sudah berjalan optimal?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika sebuah keluarga dengan kondisi sangat terbatas baru mendapatkan perhatian lebih luas setelah kisahnya viral.

Pertumbuhan Tinggi, Tantangan Pemerataan
Pertumbuhan ekonomi 11,14 persen tentu merupakan capaian makro yang penting. 

Namun, angka pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya menggambarkan kondisi setiap rumah tangga.

Di sinilah tantangan pemerintah daerah berikutnya: memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam statistik daerah, tetapi juga diterjemahkan menjadi akses yang lebih baik terhadap perlindungan sosial, administrasi kependudukan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur dasar, listrik, dan kesempatan ekonomi bagi masyarakat di wilayah terpencil.

Kasus Sahira menjadi salah satu potret yang perlu dijawab melalui kerja pemerintah yang lebih sistematis.

Bantuan kasur, tenda, selimut dan makanan menyelesaikan kebutuhan mendesak. 

Tetapi pekerjaan yang lebih besar adalah memastikan keluarga tersebut tidak kembali berada dalam kondisi yang sama setelah sorotan media mereda.

Sebab, pertumbuhan ekonomi adalah angka; kesejahteraan masyarakat adalah bagaimana angka itu terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Dan bagi Sinjai, capaian 11,14 persen sekaligus kisah Sahira menghadirkan dua pekerjaan rumah yang berjalan bersamaan: mempertahankan pertumbuhan dan memastikan tidak ada warga rentan yang tertinggal. (*)
Lebih baru Lebih lama