Pengakuan Korban Perundungan UNTAD Palu : Ditelanjangi, Dianiaya, dan Hendak Diarak Keliling Kampus

SALAH SATU KORBAN, Kenneth (20) ungkapkan bahwa insiden tersebut dipicu setelah dirinya dituduh melakukan tindakan yang membuat oknum dosen tersinggung dan menangis di kelas/F-Ibrahim.


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Penganiayaan dan perundungan berat alias penganiayaan viral di sosmed dialami oleh sejumlah mahasiswa Progam Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako (Untad).


Dimana Ketiga korban mengaku tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga intimidasi yang melukai martabatnya sehingga menjadi trauma berat.


Salah satu korban, Kenneth (20) mengungkapkan bahwa insiden tersebut dipicu setelah dirinya dituduh melakukan tindakan yang membuat oknum dosen tersinggung dan menangis di kelas. 


Senior-seniornya menurut informasi yang akan di DO, di kampus kemudian memaksa Kenneth untuk bertanggung jawab atas hal tersebut.  


"Senior bilang, dosen kami sudah malu karena perbuatan saya. Jadi saya harus menanggung akibatnya. Saya disuruh membuka semua baju saya supaya saya merasa malu seperti dosen itu," ujar Kenneth.  


Tak berhenti di situ, Kenneth juga dipaksa berjalan tanpa pakaian dan rencananya akan diarak keliling area laboratorium kampus.


"Sebenarnya saya mau disuruh putar keliling area kampus. Untungnya orang tua saya cepat datang, jadi saya disuruh pakai baju cepat-cepat," tambahnya.  




Selain Kenneth, korban lainnya HR juga mengalami kekerasan fisik berupa pukulan, luka bakar akibat sulutan rokok sehingga mengalami trauma mendalam, hingga tindak kekerasan terhadap mahasiswa perempuan.


Orang tua Kenneth yang mendatangi lokasi kejadian mengaku sangat kecewa dan khawatir akan keselamatan anaknya. Ia menyebut anaknya kini mengalami trauma berat hingga enggan kembali ke kampus.  


"Anak saya merasa tidak aman lagi di lingkungan fakultasnya. Dia trauma dan belum berani untuk berkuliah lagi. Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada tim advokat," tegas ayah korban.(*/Red).

Lebih baru Lebih lama