Sambut Ramadhan 1447 H, Ketua MUI Palu: Jadikan Syaban Madrasah Persiapan Spiritual

CAPTION : Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. KH. Zainal Abidin/F-Bidhumas Polda Sulteng 


SAMBAR.ID, Palu, Sulteng - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Prof. KH. Zainal Abidin, mengimbau seluruh umat Muslim untuk tidak melewatkan momentum bulan Syaban sebagai sarana eskalasi ibadah. 


Ia menegaskan bahwa kualitas ibadah di bulan Ramadhan sangat ditentukan oleh sejauh mana seseorang mempersiapkan diri sejak dini, baik secara fisik maupun mental.


Dalam sesi wawancara yang berlangsung pada Ahad (31/1) pagi, Prof. Zainal menjelaskan bahwa bulan Syaban bukan sekadar penanda waktu, melainkan jembatan spiritual yang krusial. Menurutnya, transisi menuju Ramadhan memerlukan adaptasi agar kekhusyukan dapat tercapai secara maksimal sejak hari pertama puasa.


Meneladani Sunnah Rasulullah


Prof. Zainal merujuk pada keteladanan Nabi Muhammad SAW yang meningkatkan intensitas ibadah saat memasuki Syaban. Landasan ini merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang mengisahkan betapa Rasulullah sangat sering melakukan puasa sunnah di bulan ini dibandingkan bulan-bulan lainnya di luar Ramadhan.


"Ulama sepakat bahwa Syaban adalah waktu terbaik untuk melakukan 'pemanasan' ibadah. Jika kita baru memulai intensitas ibadah tepat di hari pertama Ramadhan, dikhawatirkan tubuh dan jiwa kita akan kaget sehingga sulit mencapai target-target spiritual yang diinginkan," paparnya.


Beliau merinci beberapa amalan prioritas yang patut dioptimalkan umat Islam di Kota Palu, antara lain:


Peningkatan Puasa Sunnah: Sebagai latihan ketahanan fisik dan pengendalian nafsu.


Interaksi dengan Al-Qur’an: Memperbanyak tilawah dan tadabbur untuk melembutkan hati.


Pembersihan Diri: Melazimkan istighfar serta menata ulang niat semata-mata karena Allah SWT.


Harmonisasi Ibadah Personal dan Sosial


Lebih lanjut, Guru Besar tersebut menekankan bahwa persiapan menuju bulan suci tidak boleh hanya berhenti pada aspek ritual individual. Ia menggarisbawahi pentingnya dimensi sosial (kesalehan sosial) dalam menyambut Ramadhan. 


Hal ini mencakup upaya rekonsiliasi antar sesama manusia melalui silaturahmi dan saling memaafkan.


"Puasa itu esensinya adalah keluhuran akhlak. Tidak akan sempurna nilai puasa seseorang jika ia masih menyimpan dendam atau permusuhan. Maka, masuki Ramadhan dengan hati yang lapang dan hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar," tegas Prof. Zainal.


Harapan bagi Masyarakat Kota Palu


Di akhir pernyataannya, Ketua MUI Kota Palu berharap agar masyarakat dapat menjaga kondusivitas daerah dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. 


Dengan persiapan yang matang di bulan Syaban, diharapkan Ramadhan 1447 H menjadi momentum transformasi diri yang lebih bermakna bagi setiap individu.


“Kita berdoa agar Allah menyampaikan usia kita pada Ramadhan tahun ini dalam kondisi kesehatan yang prima serta iman yang kokoh, sehingga keberkahan melimpah bagi umat dan daerah kita tercinta,” pungkasnya.***


Lebih baru Lebih lama