Sambar.id Batam — Tempat hiburan malam VG kembali menjadi sorotan tajam publik. Sudah hampir sepekan berlalu sejak insiden pemukulan brutal terhadap pengunjung, namun hingga kini tak satu pun pelaku ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius: apakah hukum benar-benar berjalan, atau justru sengaja diperlambat?
Peristiwa kekerasan yang terjadi di dalam area tempat hiburan tersebut bukan sekadar keributan biasa. Korban mengalami tindakan kekerasan fisik yang diduga dilakukan oleh oknum yang memiliki keterkaitan langsung dengan pengelola atau sistem keamanan internal. Ironisnya, lokasi kejadian adalah ruang publik berizin, yang seharusnya menjamin keselamatan setiap pengunjung.
Namun fakta di lapangan berkata lain. VG justru terkesan menjadi zona abu-abu hukum, tempat kekerasan bisa terjadi tanpa konsekuensi yang jelas. Hingga Kamis, 18 Desember 2025, publik belum mendapat kejelasan:
Siapa pelaku utama pemukulan?
Mengapa belum ada penetapan tersangka?
Apakah rekaman CCTV, saksi, dan bukti lain benar-benar ditelusuri secara profesional?
Lambannya penanganan kasus ini memicu dugaan adanya perlindungan terhadap pihak tertentu. Jika benar demikian, maka ini bukan lagi sekadar kasus penganiayaan, melainkan cermin buruk penegakan hukum di Kota Batam, khususnya terhadap dunia hiburan malam yang kerap kali kebal dari sentuhan hukum.
Lebih mengkhawatirkan, pembiaran ini membuka peluang terulangnya kekerasan serupa. Pengunjung dipertaruhkan, keselamatan publik diabaikan, sementara tempat hiburan tetap beroperasi seolah tak terjadi apa-apa.
Masyarakat mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas, transparan, dan tanpa kompromi. Jika dalam waktu dekat kasus ini terus dibiarkan menggantung, maka wajar bila publik menilai bahwa hukum di Batam tumpul ke atas dan tajam ke bawah.
Tempat hiburan malam seharusnya menjadi ruang rekreasi, bukan arena kekerasan. Jika VG terbukti gagal menjamin keamanan, maka izin operasionalnya patut dipertanyakan dan dievaluasi ulang.
Kini bola panas berada di tangan aparat. Publik menunggu, dan kepercayaan masyarakat sedang diuji.(Guntur)









