Dalam pidatonya, Jaksa Agung tidak sekadar berbicara soal membaca dan menulis. Ia menempatkan literasi sebagai kompetensi strategis—kemampuan berpikir kritis, mengolah informasi secara komprehensif, dan membangun nalar hukum yang adaptif di tengah derasnya arus informasi digital.
“Kegiatan ini merupakan ruang strategis bagi peradaban hukum. Di sinilah pengetahuan hukum progresif dikembangkan dan integritas jaksa ditempa,” tegas Burhanuddin.
Tema HUT PERSAJA ke-75, “PERSAJA sebagai Hiposentrum Penguatan Kejaksaan RI dalam Mengawal Kedaulatan dan Stabilitas Nasional”, dimaknai sebagai titik pusat kekuatan yang tidak hanya menopang, tetapi juga menggerakkan. Burhanuddin menyebut, PERSAJA harus bertransformasi menjadi episentrum intelektual—bukan sekadar organisasi profesi, tetapi motor penggerak kualitas penegakan hukum.
Pernyataan ini menjadi relevan di tengah kompleksitas tantangan hukum modern. Burhanuddin mengingatkan, persoalan hukum kini tak lagi berhenti pada teks regulasi, melainkan pada cara berpikir aparat dalam menafsirkan dan menegakkannya.
Namun di balik dorongan itu, ia mengungkap fakta yang memprihatinkan. Data Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menunjukkan kebiasaan membaca rutin anak muda menurun dari 54 persen pada 2015 menjadi 37 persen. Sementara itu, laporan UNESCO tahun 2024 mencatat minat literasi Indonesia berada pada angka 0,001 persen—hanya satu dari seribu orang yang rajin membaca.
“Ini alarm serius. Tanpa literasi yang kuat, hukum akan kehilangan kedalaman dan keadilan,” ujarnya.
Karena itu, kehadiran PERSAJA Literacy Space diposisikan sebagai langkah korektif—membangun ulang kapasitas intelektual jaksa sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.
Burhanuddin juga memberikan apresiasi terhadap para jaksa yang aktif menulis buku. Ia menyebut karya-karya tersebut sebagai warisan intelektual sekaligus rekam jejak integritas yang akan menentukan arah hukum Indonesia ke depan.
“Jaksa tidak cukup hanya kuat di ruang sidang. Ia harus unggul di ruang pemikiran,” tandasnya.
Acara ini turut dihadiri Ketua Umum PERSAJA Asep N. Mulyana, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, jajaran Jaksa Agung Muda, pejabat eselon II Kejaksaan Agung, serta sejumlah narasumber, termasuk penulis Tere Liye.
Di usia ke-75, PERSAJA dihadapkan pada satu tantangan besar: membuktikan bahwa kekuatan hukum Indonesia tidak hanya bertumpu pada kewenangan, tetapi juga pada kedalaman intelektual. Literacy Space menjadi ujian awal—apakah komitmen itu akan berhenti sebagai seremoni, atau benar-benar menjelma menjadi gerakan perubahan. (Sb)







.jpg)



