Sambar.id Opini || Suatu bangsa akan bangkit ketika fondasi pendidikan kuat. Untuk membangun fondasi pendidikan kuat dimulai dari ayah dan ibu di honai, gereja dan di sekolah tetapi juga di komunitas gerakan literasi di setiap wilayah masing - masing se - tanah Papua.
Salah satu kekuatan besar untuk mencerdaskan anak bangsa akan ditentukan oleh bapa dan ibu tenaga mengajar di setiap sekolah ketika kualitas ilmunya tinggi bagi guru maka anak didik tersebut akan mempunyai kualitas diri, integritas, moral, intelektualitas, akan tinggi serta dengan mengedepankan nilai keadilan, kebenaran, kejujuran, serta dalam kehidupan akan nomor satukan kedamaian bagi sama orang Papua.
Membicarakan soal masalah pendidikan tidak akan ada habisnya. Betapa pendidikan telah menjadi urusan setiap anak Papua. Apalagi, sebagai bangsa yang memiliki slogan “adil dan beradab”, menjadi tertantang untuk mewujudkannya dalam kehidupan nyata. Tak seorang pun yang tak mau diperlakukan secara adil, dan tak seorang pun yang tak mau menunjukkan adab sebagai identitas dirinya.
Dalam konteks kebangsaan, pendidikan memiliki fungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan dan sebagai medium pembentukan karakter, identitas, serta kesadaran kolektif. Bangsa yang kuat tidak lahir dari kekayaan sumber daya alam semata, melainkan dari kualitas manusia yang mengelolanya dengan bijaksana.
Di tengah arus globalisasi yang semakin intens, tantangan terhadap kedaulatan bangsa bersifat fisik, kultural, ideologis, dan intelektual. Penetrasi budaya asing, dominasi teknologi global, serta ketergantungan pada produk luar menjadi ancaman nyata bagi kebangkitan kemandirian orang asli Papua. Dalam situasi ini, pendidikan dapat dijadikan benteng sekaligus jembatan: benteng untuk menjaga identitas dan jembatan untuk beradaptasi dengan perubahan. Oleh karena itu, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus matang secara emosional dan spiritual. Generasi seperti inilah yang diharapkan mampu menjaga kedaulatan sebagai orang asli Papua, dalam arti luas, yaitu kedaulatan politik, ekonomi, budaya, bahasa, dan bahkan kedaulatan dalam berpikir intelektualitas.
Pendidikan sebagai Fondasi Identitas dan Membentuk Karakter Orang Asli Papua
Pendidikan menjadi instrumen untuk membentuk identitas orang asli Papua. Melalui proses pendidikan, nilai-nilai kebangsaan, sejarah, budaya, bahasa dan ideologi kepapuaan ditanamkan kepada generasi muda. Tanpa pendidikan yang kuat, identitas sebagai suatu bangsa akan mudah tergerus oleh pengaruh luar yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai lokal sebagai warisan, kekayaan yang diwariskan oleh moyang. Dalam konteks ini, pembelajaran hendaknya menekankan capaian akademik dan pembentukan karakter yang membuka peluang untuk menghasilkan generasi yang cerdas dan beradab. Nilai-nilai seperti integritas, tanggung jawab, gotong royong, dan cinta tanah air harus menjadi bagian integral dari sistem pendidikan. Nilai-nilai tersebut diajarkan dan diinternalisasikan melalui praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pendidikan bagi orang asli Papua.
Selain itu, pendidikan juga berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya dan bahasa. Di tengah globalisasi, budaya dan bahasa milik orang asli Papua. sering kali terpinggirkan oleh budaya, bahasa populer global. Jika tidak diantisipasi, hal ini dapat mengikis jati diri orang asli Papua. Oleh karena itu, pendidikan harus mampu mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam kurikulum dan praktik pembelajaran di seluruh tanah air Papua.
Penguatan identitas melalui pendidikan juga berkaitan erat dengan budaya dan bahasa. Budaya dan bahasa dapat menjadi alat komunikasi sekaligus simbol identitas dan cara berpikir suatu bangsa. Pendidikan yang mengabaikan bahasa nasional dan bahasa daerah berpotensi melemahkan ikatan kultural masyarakat.
Di lembaga pendidikan, guru berperan sebagai penyampai materi dan teladan dalam hal sikap dan perbuatan. Keteladanan guru dalam mencerminkan nilai-nilai kebangsaan akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap peserta didik. Di sisi lain, keluarga dan masyarakat juga berkontribusi dalam memperkuat pendidikan karakter. Maknanya, usaha mendidik dapat berlangsung di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Sinergi antara sekolah, keluarga, komunitas literasi, persekutuan gereja dan masyarakat menjadi kunci dalam membentuk karakter, moral, integritas serta kejujuran yang kuat.
Pendidikan dan Kemandirian Intelektual Orang Asli Papua
Kedaulatan bangsa tidak dapat dilepaskan dari kemandirian intelektual orang asli Papua. Bangsa yang bergantung pada pemikiran dan teknologi dari luar akan sulit mencapai kedaulatan yang sejati. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diarahkan untuk melahirkan generasi muda Papua, yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Sebagai konsekuensinya, pendidikan harus mampu mendorong inovasi. Inovasi merupakan kunci dalam meningkatkan daya saing bangsa di tingkat global. Negara yang mampu menghasilkan inovasi akan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhannya, baik di bidang teknologi, industri, maupun ekonomi dan berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Keterkaitan antara pendidikan dan intelektual orang asli Papua sangat erat. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten, yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan sumber daya manusia yang kuat dan maju. Sebaliknya, pendidikan yang lemah akan menghasilkan tenaga kerja yang kurang produktif. Dalam konteks ini, pendidikan vokasi sangat diperlukan. Pendidikan vokasi yang relevan dengan kebutuhan industri dapat mengurangi angka pengangguran dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat orang asli Papua.
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menyediakan akses pendidikan yang merata dan berkualitas. Ketimpangan pendidikan akan berdampak pada ketimpangan intelektual yang pada akhirnya dapat melemahkan kedaulatan bangsa. Dengan pendidikan yang mampu mendorong kemandirian intelektual orang asli Papua, Papua sebagai suatu bangsa akan memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai tekanan global. Kemandirian intelektual inilah yang menjadi salah satu pilar utama sebagai suatu kedaulatan bangsa.
Era globalisasi membawa peluang sekaligus tantangan bagi bangsa. Di satu sisi, globalisasi membuka akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, di sisi lain, globalisasi juga dapat mengancam kedaulatan suatu bangsa jika tidak dihadapi dengan kesiapan yang memadai. Dalam konteks ini, pendidikan hendaknya mampu mempersiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan. Di tengah dinamika global yang cepat, kemampuan intelektual beradaptasi sangat dibutuhkan. Pendidikan hendaknya mengajarkan fleksibilitas berpikir dan kemampuan belajar sepanjang hayat.
Selain adaptif, generasi juga harus memiliki daya seleksi. Patut disadari bahwa tidak semua pengaruh global bersifat positif. Maka, pendidikan hendaknya membekali peserta didik dengan kemampuan untuk memilah dan memilih nilai-nilai yang sesuai dengan jati diri sebagai orang asli Papua.
Sementara itu, kedaulatan bangsa di era global juga ditentukan oleh kemampuan intelektual mengelola informasi. Pendidikan literasi digital menjadi penting untuk memastikan masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Selain itu, pendidikan hendaknya mampu menanamkan semangat nasionalisme Papua yang inklusif –nasionalisme yang terbuka terhadap perbedaan. Nasionalisme seperti ini akan memperkuat posisi bangsa dalam pergaulan global.
Untuk memperkuat kedaulatan bangsa, lembaga pendidikan tinggi dapat berperan aktif. Perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi yang berkontribusi pada kepentingan nasional. Hanya saja, tantangan terbesarnya adalah memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat Papua memperoleh akses yang sama terhadap pendidikan. Tanpa pemerataan, kedaulatan bangsa akan rapuh karena adanya kesenjangan sosial yang tajam.
Pendidikan yang kuat menghasilkan generasi muda yang mampu bersaing di tingkat global dan tetap berakar pada nilai-nilai nasional. Inilah kunci kedaulatan bangsa di era modern. Sebagai bangsa yang baik, berharap pendidikan yang kuat dan menjadi bangsa yang berdaulat adalah keniscayaan. Tanpa pendidikan yang kuat, kedaulatan bangsa akan menjadi ilusi. Sebaliknya, dengan pendidikan yang berkualitas, bangsa akan memiliki fondasi yang kokoh untuk menghadapi berbagai tantangan dan meraih masa depan yang lebih baik.
Pendidikan Sebagai Fondasi Kebangkitan Orang Asli Papua
Pendidikan adalah jalan menuju kebebasan suatu bangsa dari ketertinggalan menuju kebangkitan sebabnya pada dasar pendidikan ada tiga forman, non formal, dan informal sesuai Undang - Undang Nomor, 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional atau biasa disebut Undang - Undang Sisdiknas adalah landasan hukum bagi pengelolaan pendidikan di Indonesia. Undang - Undang ini juga menjadi pijakan dalam pengembangan kurikulum dan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.
Menjadi pijakan undang - undang sudah sangat jelas pengembangan kurikulum di setiap wilayah namun bagi Papua. Pemerintah daerah tingkat provinsi dan kabupaten kota tidak mempelajari secara bijak lalu mendorong kemajuan pendidikan berbasis kearifan lokal penduduk orang asli Papua.
Kita melihat di luar Papua pengembangan kurikulum kearifan lokal seperti budaya dan bahasa ini disetiap sekolah diwajibkan mengajar pada siswa dan siswi sehingga generasi muda mereka mengenal indentitas diri untuk masa depan yang kuat dan maju. Lalu di Papua saat ini budaya dan bahasa ibu terkikis oleh perkembangan zaman teknologi hari ini sementara pengambil kebijakan santai, pura - pura tidak melihat kehancuran suatu kekayaan, warisan moyang orang asli Papua.
Pengambil kebijakan tentu membuka hati, telinga dan mata untuk berjuang mendorong suatu payung hukum mengatur dan berbicara soal pengembangan kurikulum bahasa dan budaya untuk mengajar di setiap sekolah dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi di seluruh tanah air Papua. Ketika kebijakan ini diprioritaskan oleh pemerintah daerah maka nilai - nilai kehidupan sosial bagi orang Papua, akan hidup kokoh di tengah tantangan global yang masuk dari luar Papua.
Menghidupkan nilai - nilai warisan moyang orang asli Papua. Tentu salah satu cara lain adalah setiap persekutuan gereja, komunitas literasi, ikatan mahasiswa, LSM, setiap para - para adat, honai bagi perang dari intelektual, ayah dan ibu mengajarkan pada generasi muda tentang bahasa, budaya, sejarah Papua. Maka dalam hidup kehidupan bagi generasi muda akan bertumbuh, berkembang dengan kebijakan ideologi yang jelas berdiri kuat di atas negerinya sendiri.
"Pendidikan kuat, Papua bangkit, pendidikan kuat, Papua maju, pendidikan kuat, Papua pasti bisa, menentukan masa depan yang baik"
Kinaonak. Waaa.....Waaa
TiEyom Tiom, 9 Mei 2 o026
Penulis: Salah Satu Pegiat Literasi Papua Pegunungan







.jpg)



