Rokan Hilir - Biro Redaksi Rohil melontarkan kritik keras terhadap aparatur pelayan publik yang masih berlindung di balik jargon "pelan tapi pasti". Jargon tersebut dinilai hanya menjadi kedok untuk menyembunyikan lambatnya kinerja instansi pemerintah dalam melayani rakyat.
Kritik tajam itu disampaikan melalui rilis informasi publik pada Rabu (29/7/2026). Biro Redaksi Rohil menilai ada ketimpangan luar biasa antara kewajiban yang dituntut dari rakyat dan hak pelayanan yang mereka terima.
"Slogan 'pelan tapi pasti' akhir-akhir ini kembali menjadi tren di kalangan pelayan publik. Ketika rakyat membutuhkan pelayanan cepat—mulai dari perbaikan infrastruktur, pengurusan administrasi, hingga penegakan hukum—mereka justru diminta memaklumi kinerja yang bergerak dalam kecepatan slow-motion," tulis keterangan resmi Biro Redaksi Rohil, Rabu (29/7/2026).
Sindiran Logika Terbalik: Bayar Pajak Pakai Tempo 'Pelan tapi Pasti'
Guna menyentil standar ganda birokrasi, Biro Redaksi Rohil mencoba membalik logika pelayanan publik dengan analogi kewajiban perpajakan.
Jika pejabat boleh bekerja lambat dengan dalih "pelan tapi pasti", apakah rakyat juga diizinkan membayar pajak dengan prinsip yang sama?
"Bayangkan jika rakyat bilang ke kantor pajak, 'Saya bayar pajak tahun ini secara pelan tapi pasti. Hari ini Rp 10 ribu, bulan depan Rp 1.000, yang penting lunas sebelum meninggal.' Apa yang terjadi? Denda menumpuk, surat peringatan datang, dan ancaman sita aset mengintai," tegasnya.
Soroti Kontras Sistem: Penarikan Canggih, Pelayanan Manual
Biro Redaksi Rohil menilai ada ironi besar dalam sistem tata kelola saat ini. Ketika menarik uang dari dompet rakyat, negara menggunakan teknologi mutakhir, sistem otomatis, serta tenggat waktu yang ketat.
Namun, keadaan berbalik 180 derajat saat uang pajak tersebut harus dikembalikan kepada masyarakat dalam bentuk pelayanan dasar. Sistem mendadak lambat, birokrasi berbelit-belit, dan slogan "pelan tapi pasti" dijadikan mantra penenang.
Rakyat Tak Butuh 'Filosofi Siput'
Atas dasar itu, masyarakat didesak untuk tak lagi mentoleransi kinerja lamban dari lembaga yang mengelola anggaran miliaran rupiah dari keringat warga.
"Rakyat tidak butuh filosofi siput dari orang-orang yang gajinya dibayar oleh keringat rakyat. Slogan 'pelan tapi pasti' hanya boleh dipakai mereka yang sedang belajar berjalan, bukan institusi dewasa," pungkasnya.
Biro Redaksi Rohil menegaskan, jika pelayanan publik tidak bisa bergerak cepat dan pasti, maka sudah saatnya regulasi memberi kesetaraan bagi rakyat dalam menjalankan kewajibannya.
Pewarta: Tim Jurnalis (Legiman)
Sumber: Masyarakat









